Masalah kaum Hawa Lanjutan

Posted: June 28, 2009 in TAUSIYAH ONLINE
Tags: , ,


TENTANG THAHARAH ( BERSUCI )

  1. Haid

Tanya :

Apkah yang dinaksud dengan darah haid itu ?

Jawab :

Yang dimaksud darah haid itu adalah darah yang keluar mengalir dari alat vital atau kemaluan wanita dalam keadaan yang sehat dan karena tidak melahirkan, keguguran ataupun pecahnya selaput darah.

      1. Waktu Mulai Haid

Tanya :

Kapankah seorang wanita mulai haid datang ?

Jawab :

Menurut para ulama bahwa wanita yang kedatangan tamu atau permulaan haid itu adalah apabila usianya mencapai 9 tahun lebih. Jadi apabila seorang wanita belum mencapai usia 9 tahun sudah mengeluarkan darah dari kemaluannya itu bukan namanya darah haid, tetapi darah penyakit dan itu perlu diperiksakan ke diokter terdekat.

      1. Larangan Wanita Haid

Tanya :

Adakah larangan bagi wanita yagn sedang datang bulan atau haid itu ?

Jawab :

Ada. Sedangkja n larangan-larangan bagi wanita yang lagi datang bulan atau haid adalah :

  1. Tidak boleh mengerjakan solat, baik itu wajib ataupun sunat.

  2. Tidak boleh berpuasa, baik itu wajib ataupun sunnah

  3. Tidak boleh mengerjakan thawaf

  4. Tidak boleh maduk kedalam mesjid dengan segala bentuk

  5. Tidak boleh membaca Al Quran

  6. Tidak boleh melakukan aktivitas seks

      1. Darah Haid

Tanya :

Bagaimanakah bila kain yang dita kenalkan terkkena darah haid ?

Jawab :

Pada suatu hari na Nabi SAW pernah ditanya seperti itu kemudian beliau menjawab : “ siramlah dengan menggumnakan air dan sambil dikerok serta digosok dengan kuku sampai benar-benar hilang bekas darah itu. Kemudian dicui bersih.

      1. Haid Tidak Normal

Tanya:

Bagi wanita yang datang bulannya tidak normal, baik itu disebabkan karena penggunaan alat-alat kontrasepsi KB yang tidak cocok apakah kewajiban dan larangannya yang mesti diperhatikan ?

Jawab :

Pertama yang wajib diperhatikan adalah waktu kwluarnya darah dalam setiap bulannya. Apabila darah itu keluarnya madih dalam batas ketentuan yang lazim bagi wanita, maka masih dianggap darah haid. Contohnya si A biasanya haid tidak lebih dari 6 hari tetapi setelah memakai alat-alat kontrasepsi datang bulannya berlangsung sebih cepat atau bahkan lebih lama. Maka hal itu belum menjadi masalah. Sedangkan datang bulan yan menjadi masalah itu jika mada haidnya itu telah melebihi kelaziman yang berlaku, misalnya telah melebihi dari 15 hari. Maka dari selisih waktu itu mulai dihitung setelah memasuki masa suci, tetapi jika kita sudah meyakini bahwa masa sucinya itu mulai berlaku satu minggu setelah datangnya daid, maka keyakinan itu harus dipegang dan dengan itu ia harus menjalankan segala kewajiban, yakni saetelah tujuh hari sejak datangnya haid. Sedangkan untuk memastikan le;uarnya darah yang tidak normal tadi, apakah itu termasuk darah haid atau darah penyakit yang diakibatkan dari ketidak cocokan atau efek samping menggunakan alat-alat kontrasepsi KB. Alangkkah baiknya bila dioperikasakan ke dokter yang mengetahui hal itu. Tetapi yang lebih jelas bahwa darah haid dan darah penyakit itu tidak sama, dimana darah haid berwarna kehitam hitaman dan baunya tidak enak atau busuk. Jadi bila sudah diyakini bahwa darah yagn keluar itu darah haid, maka ia tidak wajib mengerjakan shalat dan mengerjakan yang lain-lainnya namun bila masih keluar cukupdibersihkan dengan air dan tidak perlu lagi mandi junub. Jadi bila akan mengerjakan shalat cukup hanya berwudhu tetapi bial madsih ragu-ragu alangkah baiknya bila dibersihkan dulu darahnya dengan air dan setelah itu mengguanakan pembalut, supaya rapi, lalu berwudhu dan baru mengerjakan shalat.

      1. Masa Haid Dan Masa Bersuci

Tanya :

Berapakah masa haid dan masa bersucinya ?

Jawab :

Dimana masa haid wanita paling cepat / minimal berlangsung selama sehari semalam dan paling lama atau maksimal setengah bulan ( 15 hari ). Sedangkan yang normalnya itu satu minggu ( 6/7 hari ) dan itu datang setiap sebulan sekali. Kemudian masa bersuci haid itu umumnya selama 20 hari dan itu tergantung dari kebiasaan wanita yang mengalami haid.

      1. Wanita Haid Bertakbiran

Tanya :

Bolehkah wanita haid melakukan takbiran ?

Jawab :

Boleh karena tidak ada larangan bagi wanita yang sedang haid mengikuti takbiran. Sedangkan yang dilarang dari wanita yang sedang haid itu danya membaca, menyentuh dan membawa Al-Quran serta berdiam dimesjid. Jadi takbiran itu menggunakan asma Allah dan apabila takbiran itu tidak dihubungkan dengan ayat-ayat Al-Quran dan pelaksanaanyapun tidak didalam mesjid, maka wanita yang sedang haid boleh mengikuti takbiran. Te tapi bila pelaksanaan takbiran itu didalam mesjid, awanita tersebut boleh ikut takbiran asalkan mengambil tempat diluar mesjid.

      1. Istri Haid

Tanya :

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang suami apabila istrinya sedang haid ?

Jawab :

Istri yang sedang haid alangkah baiknya memakai kain pembungkus dan menutupinya dengan rapat serta erat sekali. Agar tidak sampai kemana-mana darah haidnya dan suami hanya boleh menjamah apa yang ada diluar penutupa saja.

      1. Bergaul Dengan Istri Haid

Tanya :

Apakah hukumnya apabila terjadi persetubuhan dalam keadaan istri masih haid ?

Jawab :

Hukuman / sangsi melakukan persetubuhan pada saat istri sedang haid adalah dengan membayar kafarat yakni bersedekah satu dinar dan itu juga dijelaskan didalam hadist yang berbunyi :

Dari Ibnu Abbas ra, dari nabi SAW : “ mengenai lelaki yang menggauli istrinya yang sedang haid, maka ia harus bersedekah satu dinar atau setengah dinar “ ( Muttafakun Alaihi)

Maka dari itu hukumnya wajib untuk bersedekah, apabila seorangmenggauli istrinay yang sedang haid.

      1. Wanita Haid Memotong Kuku Atau Rambut

Tanya :

Apakah diperbolehkan wanita haid memotong kuku atau rambut ?

Jawab :

Tidak boleh, selama dalam keadaan haid tidak boleh memotong apapun dari anggota tubuhnya ataupun memotong kuku dan rambut. Karena bagian-bagian itu mempunyai hak untuk suci dan hal itu juga dijelaskan dalam hadist yagn diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang berbunyi :” Dibawah setiap rambut terdapat janabat maka basuhlah rambut itu dan bersihkanlah kulit.” ( Riwayat AT-Turmudzi )

Jadi dari hadits diatas jelas bahwa wanita yagn sedang haid tidak boleh memotong rambut ataupun membiarkan rambutnlya jatuh karena rambut terdapat janabat maka harus hati-hari bila menyisir rambutnya yang rontokl harus dikumpulkan dan ikut dibersihkan, disucikan apabila dalam mandi junub.

      1. Nifas

Tanya :

Berapa lamakah wanita nifas ( melahirkan / keguguran ) harus menunggu sampai suci dan wajib untuk shalat?

Jawab :

Lamanya wanita nifas itu paling sedikirt sehari semalam dan paling lama 60 hari tetapi normalnya 40 hari.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Ummu Salamah ra Beliau berkata :” Para wanita dimas Rasulullah SAW menanti berakhirnya nifas sampai 40 hari “ ( Riwaya Al Khomsah kecuali An Nasai )

Tet api bila darah masih saj keluar seteelah 40 hari maka sebaiknya diperiksakan kedokter. Sebab itu bukan lagi darah nifas tetapi da rah penyakit. Jadi wanita nifas dan sudah 40 hari tidak keluar darh maka dia menjadi suci dan wajib mandi. Setelah bersuci barulah mengerjakan shalat ataupun puasa.

      1. Wanita Nifas

Tanya :

Berapakah lamanya wanita nifas harus menanti sampai suci ?

Jawab :

Rasulullah SAW pernah ditanya hala yang serupa, lalu beliau menjawab:

Menunggu hingga 40 hari kecuali apabila sebelum itu telah suci ( bersih )”

Jadi wanita nifas itu lamanya 40 hari dan itu merupakan batas maksimum tetapi bila sebelum 40 hari sudah bersuci atau tisak keluar darah maka wajib bagi wanita mandi dan melakukan shalat.

      1. Nifas Melahirkan Dan Keguguran

Tanya:

Apakah larangan wanita yang sedang nifas baik itu melahirkan ataupun keguguran ?

Jawab :

Adapun larangan wanita yang sedang nifas adalah :

  1. Mengerjakan shalat baik wajib ataupun sunat

  2. Berpuasa baik wajib ataupun sunnah

  3. Membaca ataupun menyentuh Al Quran

  4. Masuk kedalan mesjid dengan segala aktivitasnya

  5. Melakukan tawaf

  6. Melakukan aktivitas seks

Tetapi bila sekedar membaca bismillah shalawat dan berdoa yang bukan dari ayat-ayat Al Qyran maka tidak dilarag. Ataupun membaca kalimat Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, sekalipun kalimat itu berasal dari Al Quran tetap tidak dilarang. Demikian itu pendapat ulama pada umumnya.

      1. Istihadhah

Tanya :

Apakah yang dimaksud drengan istihadhah ?

Jawab yang dimaksud dengan istihadhah adalah darah penyakit yagn keluar dari kemaluan wanita selain darah haid dan darah nifas lalu keluarnya itu tidak teratur warnanya pun seperti darah biasa. Sedangkan menurut Rasulullah SAW bahwa darah istihadhah itu keluar akibat dari gangguan pada otot atau saraf dalam vagina.

Kemudian wanita yang mengalami istihadhah harus mengerjakan shalat sebagaimana biasanya dan t idak usah mandi junub. Hal itu juga dijelaskan dalam hadits nabi SAW yang berbunyi :

Apabila itu darah haid maka warnanya kehitaman. Jika dalanm keadaan begitu maka janganlah kamu shalat. Te tapi kalau warnanya lain,maka berwudhulah kamu dan kerjakanlah shalat. Karena darah itu akibat dari gangguan pada syaraf.” Riwayat Abu Daud )

      1. Ciri-Ciri Darah Istihadhah

Tanya :

Apakah ciri-ciri khusus darah istihadhah ?

Jawab :

Adapun ciri-ciri darah istihadhah adalah :

  1. Darah yang keluar dari ukuran masa haid minimal ( terpendek ) tetapi juga melebihi dari ukuran masa haid terpanjang

  2. Darah yang keluar kurang dari masa nifas minimal dan juga melebihi dari ukuran masa nifas maksimal.

  3. Darah yang keluar melebihi dari ukuran kebiasaan haid dan nifas normal atau paling lama masa sucinya.

  4. Kata Imam Ahmad sebagian ulama hanafiah: termasuk darah yang keluar dari wanita hamil yang diakibatkan dari penyumbatan dari mulut rahim.

  5. Kelurnya tidak teratur.

      1. Keringanan Shalat Ketika Istihadhah

Tanya :

Apakah wanita yang menglami istihadhah itu mendapatkan keringanan meninggalkan shalat sebagaimana keringanan yang diberikan kepada ia yang sedang haid ?

Jawab :

Dimana wanita yang mengalami istihadhah tidak mendapatkan keringanan shalat, sebagaimana wanita yang mengalami haid karena statusnya bukan dalam keadaan kotor.

Kemudian istri Rasulullah ygn bernama Aisyah ra meriwayatkan bahwa suatu hari Fatimah binti Abi Hubaisy mengahadap kepada nabi saw untuk meminta fatwa dengan berkata :” Aku mengalami istihadhah yang berkepanjangan hingga tak kunjung suci. Apakah akau boleh meninggalkan shalat ? setelah mendapat pernyataan begitu langsung saja Rasulullah menjawab :” Tinggalkan shalat pada hari-hari haidmu. Dirikanlah shalat sekalipun darah menetes diatas tikar.” ( Riwayat Ahmad Ibnu Majah, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasai, dan Ibnu Hibbah )

Jadi dari hadits itu jelas bahwawanita yang mengalami istihadhah harus mengerjaklan shalat meskipun darah tetap keluar tidak kunjung henti. Kerana kondisi yagn seperti itu merupakan darurat dan shalatnya tidak batl serta sah untuk dikerjakan.

      1. Membaca Al Quran Ketika Istihdhah

Tanya :

Apabila ada seorang wanita yang sedang istihadha dan pada saat berhenti darahnya ia mengaji. Sewaktu ngaji itu langsung saja darahnya keluar lagi. Apakah wanita tersebut termasuk junub ?

Jawab :

Tidak, karena wanita itu statusnya bukan junub tetapi dalam keadaan hadast kecil dan darah istihadhah itukah keluar dari salah satu saluran kotoran manusia ( khususnya wanita ) maka ia diwajibkan untuk berwudhu.

      1. Wanita Istihadhah Melakukan Aktivitas Seks

Tanya :

Bolehkah wanita yang sedang istihadhah melakukan aktivitas seks ?

Jawab :

Untuk menjawab pendapat itu ada dua pendapat yang sama-sama berdasarkan pada hadist Nabi Saw pendapat yagn kesatu membolehkan wanita istihadhah melakukan aktivitas seks dan pendapat ini sesuai dengan pendapat dari ikrima lalu ia berkata :

Ummu Habibah mengalami istihadhah saat itu suaminya tetap menyetubuhinya “ (Riwayat abu Daud )

Kemudian ada pula para ulama yang mendukung pendapat itu yakni “ suami istri boleh melakukan aktivitas seks meskipun darah istihadhah istrinya masih mengalir keluar “

Jadi tidak karena darah sedang berhenti dan riwayat yang senada juga dikemukakan oleh Ibnu Al Basri Atha, Said bin Jabir dan jumhur yang lainnya.

Lalu pendapat yang kedua tidak memperbolehkan wanita yang sedang istihadhah melakukan aktivitas seks dan diperjelas dengan riwayat Al Khaula yang bersanad sampai dengan aisyah ra Ia berkata : “ Wanita yang sedang istihadhah tidak boleh disetubuhi suaminya”

Alasan tidak memperbolehkan wanita yang sedang istihadhah melakukan aktivitas seks karena darah istihadhah adalah merupakan darah penyakit dan wanita tersebut juga dalam keadaan seperti haid. Bedanya Cuma ia bisa suci hanya dengan berwudhu dan tidak usah mandi besar.

Memang secara lahiriah melakukan aktivitas seks ketika istri sedang istihadhah itu tidak ada madalah dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan alangkah baiknya bila tidak melakukan aktivitas seks terlebih dahulu

      1. Wudhu Dalam Mandi Janabat

Tanya :

Apakah mandi besar ( janabat ) juga harus melakukan wudhu ?

Jawab :

Mandi yang bertujuan untuk membersihkan atau mandi biasa anda tidak usah berwudhu tetapi bila mandi besar atau janabat anda harus melakukan wudhu terlebih dahulu dan wajib untuk berkumur serta memasukkan air kedalam hidung, sebab semua bagian badan yang terbuka itu harus semuanya terkena air.

      1. Mandi Hadats Besar

Tanya :

Bagaimanakah caranya mandi hadats besar itu ?

Jawab :

Adapun caranya mandi besar atau jinabat itu adalah :

  1. Menyiram seluruh tubuh dan rambut dengan air yang suci sampai rata

  2. Wudhu untuk mandi

  3. Meratakan air keseluruh rambut dan kulit sampai rata

  4. Mengalirkan air hingga ke pangkal rambut

  5. Menyampaikan air kebagian tubuh yang mungkin dicapai

  6. Wajib menggerak gerakkan anting-anting, cincin dan lain sebagainya apabila sempit agar terkena air.

  7. Menutup aurat

Sedangkan hal itu juga dijelaskan didalam hadits Nabi SAW yang berbunyi : diriwayatkan oleh muslim, Ahmad dan Turmudzi dari Ummu Salamah ra bahwa seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW :

Ya Rasulullah ! saya wanitA yang senantiaswa menganyam rambut, apakah saya harus membukanya setiap kali mandi janabat ?

Kemudian Nabi menjawab :

Sesungguhnya sudah cukup menuangkan ai kepadanya sebanyak tiga kali, sehingga membasahi seluruh tubuhmu. Setelah itu engkau telah suci.

Hadits Rasulullah SAW yang lainnya berrbunyi :l diriwayatkan oleh jamaajh kecuali Tirmidzi dan Aisyah ra bahwa Asma binti yazid bertanya kepada nabi saw tentang mandi orang haid. Rasulullah bersabda kepadanya : “ Sediakan air dan daun sidr atau daun bidara. Berwudhulah sebagus-bagusnya kemudian tuangkan air ke kepala dan gosok-goskkan ke kepala kuat-kuat sampai merata seluruhnya. Kemudian tuangkan air ke kepala sesudah itu ambillah potongan kain yang telah diolesi harum-haruman lalu bersucilah dengannya.” Kemudian Asma bertanya lagi :” bagaimanakah caranya bersuci dengan potongan kain itu ? “ mendengar begitu Rasulullah SAW menjawab : “ Subhanallah ! Bersihkan bekas-bekas darah dengannya.” Maka kata kata Aisyah kepada Asma itu earbisik-bisik, gosok-gosokkan potongan kain itu ke seluruh bagian yang bekas kena darah ! sesudah itu aku kemudian bertanya lagi kepada Nabi SAW tentang mandi janabat kemudian nabi menjawab dan bersabda : “ Ambillah air maka berrwudhulah dengan air itu seagus-bagusnya. Kemudian siram ke kepala, terus gosok-gosok sampai rata dan setelah itu siram lagi. Kata Aisyah selanjutnya : “ Wahai yang paling baik ialah wanita anshar. Mereka tidak malu-malu untuk belajar agama.”

      1. Mandi Besar

Tanya :

Ada seorang wanita melakukan hubunmgan seksual dengan suaminya namun hubungan tersebut dihentikan sebelum sperma suaminya itu keluar. Apakah yang demikian itu diharudkan untuk mandi besar ( junub ) ?

Jawab :

Sebagaimana dijelaskan didalam hadits Nabi SAW bersabda yang berbunyi :

Apabila dua kelamin telah bertemu dan pucuk kelamin laki-laki telah tebenam ( dalam vagina ) maka wajib mandi” ( Riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Abdullah bin Amru bin Ash )

Jadi dari hadits itu jelas bahwa mereka berdua diwajibkan untuk mandi besar (junub). Walaupun dalam mengerjakan hubungan seks tidak sampai mengeluarkan sperma dan sekalipun alat kelamin laki-laki baru sedikit saja masuk kedalam liang vagina wanita.

      1. Air Mazdi

Tanya :

Apabila keluar air madzi ( bukan mani ) apakah diharuskan untuk mandi besar atau junub ?

Jawab :

Bila keluar air madzi tidak usah melakukan mandi besar atau jinabart dan cukup berwudhu saja.

      1. Wanita Melakukan Onani

Tanya :

Apakah wanita yang melakukan onani diharuskan melakukan mandi besar atau mandi junub ?

Jawab :

Jika wanita melakukan onani, mak ia diwajibkan untuk mandi besar atau jinabat, karena hasil kepuasan yang diakibatkan dari onani itu tidak lepas dengan keluarnya cairan yang sejenis dengan sperma.

Jadi meskipun tidak melakukan hubungan seks dengan laki-laki maka ia diwajibkan untuk mandi junub karena sudah mencakup segala aspek yang menyebabkan keluarnya cairan yang sejenis dengan sperma dari dirinya.

      1. Memandikan Suami Atau Istri Yang Wafat

Tanya :

Apabila suami itu wafat, bolehkah seorang istri untu memandikannya atau sebaliknya istrinya wafat kemudian suaminya yang memandikan ?

Jawab :

Boleh saja, daik itu istri ataupun suami saling memandikan apabila ada salah satu yagn meninggal. Karena Sayyidina Ali bian Abi Thalib Karramallahuwajhahu memandikan mayat istrinya, yakni Fatimah ra.

      1. Air Madzi

Tanya :

Apakah jawaban nabi ketika ditanya tentang masalah keluarnya air madzi ?

Jawab :

Rasulullah menjawab : “Cukup dengan berwudhu saja.” Kemudian ditanya lagi.” Bagaimana kalua madzi itu mengenai pakaian ? “ lalu beliau menjawab :” ambillah segenggam air dan siramkan ke tempat yang terkena madzi tersebut supaya hilang belkas-bekasnya.” ( Riwayat At Turmudzi )

      1. Memakai Alis Palsu

Tanya :

Apakah wanita menggaunakan celak ataupun alis palsu itu tidak dapat menjamin syahnya wudhu ?

Jawab :

Ya, apabila celak atau alis itu terbuat dari bahan kkosmetik yang tidak bisa diresapi air. Karena wajah itu meliputi seluruh bagian kulit wajah ( alis, mata, bibir, hidung ) dan semua itu alangkah baiknya bila dibersihkan dahulu kosmetiknya dan baru berwudhu.

Comments
  1. hayufadila says:

    saya mau tanya.. sayakan sedang hamil 2 bln,. tp saya mengeluarkan darah hitam yg banyak 2x lipat dr darah haid saya biasanya,. dan keluar sampai 8 hari brturut2 sampai saya tdk mlkukn sholt,. setelah itu saya masih keluar tp hanya sedikit2 dan tdk tentu.. pertanyaa saya.. 1. apakah saya harus mengganti sholt saya yg 8hr itu ato tdk?
    2. dan apakah saya boleh mlkukn hub intim dg suami saya?

  2. Hadiatur says:

    Stlh melahirkan sy pake kontrasepsi kb suntik.ktk wkt haid tiba,slm 8 hr muncul flek dan sdkt darah.hari ke 9 darah yg keluar bertambah banyak.hari ke 18 darah yg keluar sedikit dan jarang2.biasanya sy haid 6 hr.apa itu darah istihadoh.mhn penjelasannya ke email saya.

  3. dea rasyala says:

    setelah mandi wajib, masih keluat bercak darah hitam sedikit? apakh harus mandi wajib lagi?

  4. acependri says:

    nen kamu rajin amet

    do not forget to visit my blog and leave your comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s