Masalah Kaum Hawa

Posted: June 28, 2009 in TAUSIYAH ONLINE
Tags: , , , ,


TENTANG ZAKAT

    1. Zakat Fitrah

Tanya :

Apakah zakat fitrah itu dikluarkan dengan menggunakan uang ?

Jawab :

Boleh, tetapi bila zakat fitreh itu dikeluarkan dengan uang harus sesuai atau menurut umumnya harga pasar.

  1. Wanita Berzakat

Tanya :

Apakah kewajiban zakat itu juga berlaku bagi kaum wanita ?

Jawab :

Sebagaimana dijelaskan didalam suatu riwayat yang bersanad dari Abu Bakar ra.yang berbunyi:

Inilah kewajiban zakat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw.atas kaum muslimin.”(Riwayat Bukhari).

Sedangkan yang dimaksud kaum muslimin diatas adalah mencakup lapisan orang islam, baik itu laki-laki ataupun wanita, dewasa atau anak-anak.

Jadi kaum wanita itu juga mempunyai kewajiban untuk berzakat, bila mereka mempunyai kekayaan yang telah mencapai nisab.

  1. Ketentuan Zakat Bagi Wanita

Tanya:

Apakah ketentuan zakat bagi wanita itu sama dengan pria?

Jawab:

Tidak ada perbedaanya dalam mengeluarkan zakat antara wanita dengan kaum laki-laki.

Apabila kekayaan yang dimilikinya itu belum sampai satu tahun dan tiba-tiba mengalami bangkrut. Padahal tadinya sudah mencapai satu nisab, maka ia tidak diwajibkan untuk tidak berzakat, karena telah kedahuluan bangkrut. Tetapi bila telah memenuhi syarat, maka ia diwajibka untuk berzakat.

Adapun syaratnya itu adalah:

  1. islam

  2. mempunyai harga kekayaan yang telah mencapai satu nisab, baik itu berupa emas, perak, perniagaan dan lain sebagainya.

  3. Kekayaan yang dimiliki itu telah mencapai satu tahun.

Jadi apabila seorang wanita mempunyai harta kekayaan yang telah mencapai satu nisab, maka ia diwajibkan untuk berzakat. Meskipun dalam pandangan syariah wanita menjadi tanggung jawab seorang suami, maka dalam hal ini harus dibedakan, kalau tanggung jawab seorang suami itu adalah menyangkut masalah hubungan dengan sesama manusia, tetapi tanggung jawab untuk mengeluarkan zakat adalah merupakan hubungan dengan hak yamg berkaitan dengan Allah.

  1. Pembagian Zakat

Tanya:

Manakah yang lebih baik, membagi zakat sendiri atau melalui pemerintah?

Jawab:

Apabila seorang penguasanya itu adalah seorang muslim dan mereka menjalankan syariat agama secara utuh serta adil, maka merekalah yang mengumpulkan dan membagikan uang zakat. Karena mereka akan takut menyalah gunakan wwenang dan harta milik Allah. Kemudian yang demikian itu akan memperoleh pahala.

Sedangkan yang membagi zakat melalui pemerintah itu mengandung hikmah yang tinggi dan bagi si penerimanya pun lebih terhormat dan akan terhindar dari rasa malu, karena tidak banyak orag yang mengetahuinya. Tetapi kalau ia harus menerima dari orang per orang dan berkeliaran di jalan-jalan akan memberi kesa rendah, baik bagi sipenerima atau bagi agama.

Apabila para pelaksana, pengumpul dan pembagi zakat dari pemerintah itu meragukan kejujuran dan keadilannya, maka akan lebih baik jika dibagi sendiri zakatnya.

Dalam pembagian zakat yang utama itu kepada fakir miskin dari sanak keluarga, tetangga, kawa dekat, dan kenalan, tetapi lebih mendahulukan laki-laki atau wanita yang shaleh.

  1. Hutang Dan Zakat

Tanya:

Apakah orang yang mempunyai hutang itu berkewajiban untuk membayar zakat?

Jawab:

Dimana orang yang mempunyai kekayaan dan sudah mencapai satu nisab, kemudian bisa dipertahankan sampai setahun, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Sedangkan itu juga merupakan ketentuan yang berlaku, meskipun hutangnya banyak. Misalnya hutang yang dipunyainya itu dijadikan untuk membayar hutang dan hutangnya itu mempunyai nilai sama. Meskipun demikian ia harus memnayar zakat atau wajib mengeluarkan zakat.

Begitu halnya orang yang mempunyai barang dagangan yang sudah mencapai satu nisab ataupun lebih. Kemudian masa kepemilikan dan perniagaannya itu sudah berusia satu tahun, maka hutangnya itu tidak bisa mencegah dirinya untuk membayar zakat. Sebab yang demikian itu adalah karena berkaitan dengan utang dan utang berkenaan dengan tanggungan, tetapi kalau zakat berhubungan dengan harta yang berada pada tangannya.

  1. Zakat Mensucikan Para Penerimanya

Tanya:

Apakah zakat itu bisa menyucikan jiwa penerima dan dapat mengembangkan harta mereka?

Jawab:

Seorang fakir yang lemah, apabila melihat orag yang kaya raya, maka dalamhati si miskin akan timbul perasaan iri, kurang senang, dengki, dan lain-lainnya. Akan tetapi bila si kaya mempunyai hati yang mulia dan baik hati serta senang memberi bantuan dengan penuh keakraban, kekeluargaan makaakan dapat merubah pandangan si fakir menjadi suatu kenikmatan. Karena kekayaan yang dimiliki orang kya itu bergun bagi mereka, maka membuat hati sifakir menjadi bersih, tidak lagi dendam tidak iri dan lain-lainnya.

Sebab harta yang banyak dan belum pernah ia terima dari zakat atupun belum pernah ia peroleh dari usahanya sendiri itu bisa dimanfaatkan untuk dijadikan modal usaha ataupun dapat mendonor pada dirinya sendiri bahw ia merupkan sebagai anggota masyarakat yang baik dan juga harus bisa mengamalkan harta nanti bila sudah dengan orang-orang lainnya.

Jadi dengan zakat hart yang diperoleh itu dapat menvegah dan merubh dari sifat-sifat malas,dengki, pesimis dan lemah jiwa.

  1. Menzakati Uang Simpnan

Tanya :

Saya mempunyai uang dan kusimpan sebagai persiapan biaya pernikhan anak saya. Apakah uang yang saya simpan itu juga dikenakan pajak ?

Jawab :

Apabila uang yang anda simpn itu tlah mencpai haul maka anda wajib untuk menzaktinya dan juga trgantung dari jumlh minimal yang trkena zakat.

Tetpi banyak orang yang mengira bahwa mwnyinmpan uang itu bebas dari zakat namun anggapan itu slah. Karena dari uang itu harus dikeluarkan hak Allah yang harus diberikan kpada fakir miskin agar memperoleh ridhoNya .

  1. Uang Kertas Atau Cek Di Bank

Tanya :

Apakah orang yang mempunyai harta dan baerwujud uang kertas atau cek di bank itu di zakti ?

Jawab :

Orang yang mempunyai harta bewujud uang kertas atau cek dibank itu wajib dizajati bila uangnya itu sudah setahun menyimpannya dan sudah cukup jumlahya. Seperti halnya nisab perak.

  1. Zakat Binatang Ternak

Tanya :

Binatang apa saja yang harus dizakati ?

Jawab :

Adapun binatang ternak yang wajib untuk dizkati adalah unta lembu atau kerbau dan kambing. Tetapi dengan syarat :

      1. Sudah penuh selama setahun dimilikinya

  1. Penggembalaan binatan-binatang tadi secara bebas atau umbaran yakni digembalakan ditempat rumput yang baebas dan tidak ada yang memikliki tempat itu tetapi bukan yang diberi makan bukan dengan jalan membeli.

  2. Sudah cukup mencapai nisab

BAB V

TENTNG PUASA

      1. I”Tikaf

Tanya :

Apakah hal-hal yang membuat I’tikaf itu menjadi btal ?

Jawab :

Hal-hal yang membatalkn I’tikaf itu adalah sebagai berikut :

  1. Bersetubuh

  2. Keluarnya dari mesjid dengan tidak adanya udzur atau alasan.

      1. Nama Bulan Ramadhan

Tanya :

Mengapakah bulan puasa disebut dengan nama “Ramadhan” ?

Jawab :

Dimana ramadhan itu berasa dari ramadh yang artinya adalah trik matahari yang angat panas. Dan pada zaman dulu ketika akan memberi nama bulan itu disesuaikan dengan keadaannya. Misalnya nama Ramadhan disesuaikan dengan keadaan cuaca atau musim dan begitu pula dengan nama Rabiul Awal serta Rabiul Akhir. Kemudian perputaran musim adalah sesuai dengan peredaran matahari makanya ramadhan terkdang jatuh pada musim panas dan kadang jatuh pada musim dingin.

Jadi bulan puasa diberi nama ramadhan karena merupakan satu-satunya bulan yang disebut dalam kitb suci Al Quran yang berbunyi :

Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan (pemulaan) Al quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. “ (QS Al Baqarah : 185 )

  1. Niat Puasa

Tanya :

Apakah niat itu termasuk disyariatkan, bila akan menunaikan puasa ?

Jawab :

Sebagaimana dijelaskan didalam sebuah riwayat dari rasulullah Saw yang berbunyi :

Barang siapa tidak berniat puasa tidak berniat pada malam hari, sebelum fajar maka tidak sah puasanya.” ( Riwayat Ad Daruqutni dan Al Baihaki )

Dari hadits diatas jelas bahwa niat itu memiliki nilai penentu yang membedakan suatu pelaksanaan ibadah ataupun bukan ibadah. Maka dari itu niat perlu dan merupakan rukun dari puasa. Jadi membaca niat sebelum puasa itu selalu disyariatkan meskipun dalam pelaksanaannya hanya dibaca didalam hati.

Untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan minimal nit itu telh dibaca atupun ditetapkan didalam hati dseebelum fajar tiba atau sesudah makan shur sebab orang yang mengerjakan puasa tetapi belum menetapkan niatnya maka puasanya itu tidak terhitung.

  1. Rukun Puasa

Tanya :

Apakah yang menjadi rukun uasa itu ?

Jawab :

Adapun rukun puasa itu dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu :

  1. Berniat pada malam harinyA

  2. Menahan diri dari makan dan minum ataupun segala yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya matahari sampai terbenam matahari.

  1. Wanita Puasa

Tanya :

Wanita yang melakukan ibdah puasa itu tiba-tiba haidnya datang. Apaakah wanita itu boleh melanjutkan puaanya itu ?

Jawab :

Apabila wantitan yang melakukan ibdah puasa kemudian datang bulan maka puaanya itu batal dan tidak boleh dilanjutkan puasanya karena wanita itu daam keadaan tidak suci dan persyaraatan puasa adalah harus suci.

  1. Puasa Melakukan Onani

Tanya :

Apakah mencari kepuasan seks bagi seorang wanita yang berpusa dengan cara onani. Apakah dengan cara yang demikian itu dapat membatalkan puas ?

Jawab :

Sebagaimana syariat mengajarkan bahwa wanita bermimpi seperti yang dialami oleh seorang laki-lki makaa ia diwajibkan untuk mandi. Karena seorang wanita juga mengeluarkan cairan sejenis sperma. Yang deikian itu dapat membatalkan puasa dan ia wajib menggantinya.

  1. Hutang Puasa

Tanya :

Bagaimana hukumnya bagi orang yang senang menunda nunda hutang puasanya hingga datang bulan puasa berikutnya ?

Jawab :

Bagi orang yang senang ataupun sengaja menunda-nunda utang puasanya itu hukumnya adalah berdosa. Maka dari itu ia dikenakan denda dengan membaya fidyah selain tetap melakukan kewajiban dengan mengqadha puasanya.

  1. Mencium Istri Ketika Puasa

Tanya :

Ada sahabat nabi yang bermnama Umar bin Abi Salamah pernah bertanya kepaa nabi : “ apakah orang yang sedang berpuaa itu boleh mendiu istrinya ?

Jawab :

Mendengar pertanyaan sahabt nabi itu beliau langsung menjawab dan membujuk kepada istrinaya yang bernama Ummu Salamah seraya bersabda : ” Tanyalah dia.” Kemudian Ummu Salamah menjawab : “ Rasulullah melakukan hal itu .”

Tetapi ketika anak muda yang bertanya tentang hal sama kepada beliau maka nabi melarangnya.

Lalu adalagi orang tua yang bertanya tentang hal yang sama kepada baliau maka nabi menjawab : “ Ya boleh sebab orang yang sudah tua itu akan mampu untuk menahan diri.”

  1. Puasa Afdhol Selain Ramadhan

Tanya :

Puasa pada bulan apakah yang palling afdhal selain buln Ramadhan ?

Jawab :

Ada seorang sahabat bertanya kepada nabi Saw seperti itu kemudian nabi menjawab : “kalau kamu hendak berpuasa setelah bulan ramadhan maka puasalah bulan Muharram “

Lalu ada sebuah riwayat mengatakan :

Pada bulan itu Allah telah mengampuni dosa-dosa kaum yang lain “ (Riwayat Imam Ahmad)

  1. Puasa Dan Junub

Tanya :

Pada malam hari seorang telah melakukan jima’ dan tiba saatnya adzan subuh, tepatnya bula puaa apakah itu juga mempengaruhi puasa ?

Jawab:

Tidak mempengaruhi dan puasanya tetap sah kemudian segera mandi agar bisa melakukan shalat subuh tepat pada waktunya dan jangan ditunda tunda.

  1. Lupa Dalam Puasa

Tanya :

Didalam melakukan ibadah puasa seseorang lupa kalau dia itu berpuasa kemudian makan dan minum. Apakah seperti itu membatalkan puasanya atau puasanya itu diteruskan ?

Jawab :

Jika berpuasa lalu makan dan minum maka puasanya tetap sah dan tidak batal kemudian nabi juga pernah ditny serupa lalu beliau menjawab : “ teruskan puasamu itu izqi dari Allah untukmu”

Lain lagi kalu disengaja maka puasanya itu batal dan wajib untuk menggantinya.

  1. Puasa Wishal

Tanya :

Apakah seseorang itu boleh melakukan puaa Wishal dan apa puas wishal itu ?

Jawab :

Dimana puasa wishal itu tidak boleh dilakukan dan hukumnya haram. Sedangkan puasa wishal itu sendiri adalah puaa menyampung yakni berpuasa cara dua hari atau lebih dengan makan dan minum pada malam harinya.

  1. Hari Yang Diharamkan Untuk Berpuasa

Tanya :

Hari-hari apakah yang diharamkan untuk berpuasa ?

Jawab :

Adapun hari-hari yang diharamkan untuk berpuas adalah :

  1. Hari raya Idul Fitri

  2. Hari raya Idul Adha

  3. Hari tasyrik

  4. Hari syak atau hari yang diragukan untuk erpuasa yaitu tanggal 30 sya’ban

  5. Hari separuh yang terakhir bulan sya’ban yakni mulai tanggal 15 sya’ban sampai habisnya kecuali bila digandengkan dengan hari-hari sebelumnya

  1. Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa.

Tanya :

Siapa sajakah yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa ?

Jawab :

Jadi orang yang diperolehkan untuk tidak berpuasa adalah :

  1. Orang musafir

  2. Orang haid dan nifas

  3. Orang yang sakit

  4. Orang yagn hamil, yang mengkhawatirkan kalau mendatangkan bahaya bagi dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya

  5. Orang yang sedang menyusui

  6. Orang yang batal puaanya karena suatu hal yang membatalkannya selain jima’

Jadi orang tersebut diatas boleh tidak berpuasa, tetapi dilain kesempatan wajib untuk menggantinya sebanyak bilangan yang ditinggalkannya.

  1. Puasa Sunah

Tanya :

Apakah seorang wanita juga disunahkan untuk berpuasa selain puaa Ramadhan ?

Jawab :

Tidak ada perbedaan kesunahan yang berlaku antara wanita dan laki-laki dalam beribadah itu, termasuk dalam puasa sunnah tetapi bila sudah berkeluarga harus memintaizin kepada suaminya dulu. Sebab kalau tidak mendapatkan izin dari suaminya dan puasanya iut dilakukan maka bukanlah mendapatkan pahala tetapi malh mendapatkan dosa.

Berbeda dengan wanit yagn belum berkeluarga atau bersuami ia boleh melakukan puasa sunnah tanpa eminta izin terlebih dahulu karena tidak perlu ada yagn dilayani. Tetapi tidak berarti wanita yagn besuami itu kesempatan ibadahnya semakin berkurang bukan begitu sebab melayani suami dan merawat anak-anak itu juga termasuk ibadah.

BAB VI

TENTANG HAJI

  1. Wajibnya Haji

Tanya :

Apakah seseorang yang melakukan ibdah haji itu wajib melakukan kewajiban-kewajiban yang lainnya ?

Jawab :

Selain rukun pula kewajibn yang lainnya yang bila ditinggalkan tidk membatalkan hajinya, tetapi harus mengganti atau mmbyar denda.

Sedangkan kewajiban-kewajiban haji itu sebagai berikut :

  1. Ihram dan miqat

  2. Bermalam di Muzdalifah

  3. Melontar jumrah Aqabah pada hari Nahar

  4. Melontar tiga jumrah ( Ulaa’, wustha, dan aqabah )

  5. Menginap di Mina ketika hari tasyriq

  6. Tawaf Wada

  7. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan seba ihram.

  1. Arti Haji

Tanya :

Apakah yang dimaksud dengan haji itu ?

Jawab :

Yang dimaksud dengan haji adalah ziarah atau perjalanan ke Mekkah denan melakukan ibadah-ibadah tertentu baik di mesjidil Haram Arafah dan lain sebaginya. Guna untuk memenuhi rukun dan wajib hji sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah keika hayatnya.

Hal itu juga dijelaskan dalam firman Allah yang berbunyi :

wajib karena Allah atas semua manusia bagi yang mampu perjalanan kesan, untuk berhaji ke Baitullah ( ka’bah ) itu “ ( QS Ali Imron :97)

  1. Hukum Haji

Tanya :

Apakah hukumnya haji itu ?

Jawab :

Hukum haji ialah fardu a’in , yakni diwajibkan sekali seumur hidup atas tiap-tiap muslim baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah memenuhi syarat. Kemudian haji itu diperintahkan satu kali seumur hidup dan selebihnya adalah sunnah.

  1. Syarat Haji

Tanya :

Apakah seseorang yang melakukan ibadah haji itu harus memenuhi syarat dan apa saja syaratnya ?

Jawab :

Untuk memenuhi panggilan Allah itu harus memenuhi syarat, apabila salah satu syaratnya tidak terpenuhi maka hajinya itu tidak sah.

Sedangkan syarat haji dikelompokkan menjadi enam bagian yaitu :

  1. Harus Islam

  2. Merdeka

  3. Baligh

  4. Wajib haji itu hanya berlaku bagi orang – orang muslim yang berusia baligh. Sedangkan anak-anak yang belum baligh tidak wajib berhaji dan bila berhaji hukumnya hanya sunnah saja.

  5. Berakal dan orang yang tidak berakal tidak wajib untuk berhaji

  6. Aman di perjalanan

Yang dimaksud dengan aman diperjalanan adalah perjalanan yang membawa dirinya pulang pergi benar-benar terjamin dan terlindungi dan terjamin serta tidak dalam keadaan terkepung oleh musuh dan takut terhadap bahaya dari seorang penguasa

Mampu, dalam arti telah mempunyai bekal untuk menympaikan dirinya ke Baitullah dan membawanya kembali ke tempat asalnya.

  1. Tata Cara Ibadah Haji

Tanya :

Bagaimanakah tata cara dalam melaksanakan ibadah haji itu ?

Jawab :

Adapun tata cara ibadah haji itu dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Ifrod

Yang dimaksud dengan ifrod adalah niat untuk berhaji saja

  1. Qiron

Yang dimaksud dengan qiron adalah berihrom untuk haji dan umroh dengan satu niat, satu ihram satu tawaf dan satu sai serta cukur sebagian rambut.

  1. Tamatu

Yang dimaksud tamatu adalah melakukan ihram hanya untuk umroh saja.

Kemudian saetelah selesai mengerjakan umroh dan tahallul baru mengerjakan dan berniat ibadah haji pada tanggal 8 Dzulhijjah. Sedangkan dalam haji tamatu ini hukumnya wajib untuk menyembelih binatang qurban dan waktunya setelah mengerjakan ihram haji.

Kemudian didalam tahalul digolongkan menjadi dua yaitu :

  1. Tahallul awal, dilakukan setelah selesai mengerjakan umrotul aqabah yang pertama pada hari nahar dan tepatnya di Mina

  2. Tahallul tsani, dilakukan setelah selesai melakukan tawaf ifadoh. Ketika itu halal baginya untuk mengerjakan apa yagn diharamkan oleh ihram.

  1. Wanita Pergi Haji Sendirian

Tanya :

Mengingat banyak dalail yang menerngkan bahwa kaum wanita itu dilarang pergi sendirian kecuali disertai muhrim. Apakah dalam ibadah haji mereka harus juga disertai muhrimnya juga ?

Jawab :

Untuk menjawab pertanyaan itu ada dua pendapat yang menjelaskan yaitu :

  1. Dari imam malik dan imam syafi’i

Mereka berpendapat bahwa seorang wanita yang hendak menunaikan ibadah haji tidak wajib disertai muhrimnya. Tetapi bila ia sudah mendapatkan seorang teman ynag bisa dipercaya.

  1. Dari pihak abu hanifah dan golongan fuqoha

Bahwa keberadaan muhrim termasuk menjadi syarat wajib untuk kepergian seorang wanita menunaikan ibadah haji.

Adapun pendapat-pendapat itu disebabkan karena adanya perbedaan persepsi antara perintah mengerjakan ibadah haji dan larangan bepergian bagi wanita kecuali diikuti seorang muhrim. Kemudian fuqoha yang berpedoman pada keumuman perintah haji berpendapat bahwa wanita boleh pergi menunaikan ibadah haji meskipun tidak diikuti seorang muhrim.

  1. Pakaian Ihram Wanita

Tanya :

Bagaimanakahbentuk atau model pakaian ihram untuk wanita ?

Jawab :

Adapun bentuk dan model pakaian wanita itu bebas asal sesuai dengan ketentuan agama yakni harus menutup aurat dan tidak membentuk tubuh. Sedangkan yang kelihatan adalah hanya muka dan telapak tangannya.

Untuk wanita yang menggunakan cadar atau tutup wajah harus dibuka saat melakukan ihram. Sedangkan pakaian yang sering digunakan wanita masa kini adalah banyak terdapat kekurangan misalnya pakaiannya dari bahan tipis yang pada akhirnya memperlihatkan bentuk tubuhnya. Padahal menggunakan baju tipis itu bisa membatalkan ibadah haji selain itu juga akan mengganggu ibadah haji orang lain.

Jadi pakaian wanita yang baik yang digunakan untuk ibadah haji itu bebas asalkan sesuai dengan ketentuan agama dan menutup aurat.

  1. Bekerja Dan Haji

Tanya :

Bila ada orang pergi ke Arab Saudi dengan tujuan untuk bekerja. Kebetulan tiba musim haji dan akhirnya dia berhaji. Apakah hajinya itu sah ?

Jawab:

Sah ! sebab ia pergi ke Arab Saudi untuk bekerja dan juga tidak bertentangan dengan keabsahan hajinya.

  1. Mewakili Istri Melontar Jumrah

Tanya :

Saya dan istri pergi melajksanakan ibadah haji dan untuk menghindari desak-desakan apakah diperbolehkan say mewakili istri saya molontar jumroh ?

Jawab :

Boleh anda boleh mewakili istri annda untuk melempar jumrph meskipun dalam keadaan sepipun.

  1. Istri Haji Tanpa Suami

Tanya :

Apakah diperbolehkan seorang wanita yang sudah berkeluarga melakuakan ibadah haji tanpa mendapat izin dari suaminya ?

Jawab :

Seorang wanita boleh melakukan ibadah haji tanpa harus mendapatkan izin dari suaminya. Begitu juga dengan suami tidak boleh melarang ataupun mencegah kepergiannya justru suami harus mensegerkan kebrangkatannya sebab istri memppunyai niat baik yakni menunaikan tugas wajib kepada Allah SWT.

  1. Hukumnya Menunda Ibadah Haji

Tanya :

Apakah hukumnya orang yang telah mampu menunaikan ibadah haji tetapi tyeus menerus menundanya ?

Jawab :

Dimana orang2 yang suka menunda nunda ibadah haji lalu sampai jatu miskin pada akhirnya tidak mampu lagi untuk menunaikan ibadah hajinya maka hajinya itu haram dan ia tetap mempunyai hutang untuk menunaikannya meskipun dana yang diperolah itu bantuan dari orang lain. Sedangakan orang yang seperti itu dikhawatirkan matinya terancam mati dalam keadaan yahudi dan nasrani.

  1. Melakukan Tawaf Wada

Tanya :

Bagaimanakah hukumnya orang yang telah menyelesaikan ibadah haji tetapi tidak melakukan tawaf wada ?

Jawab :

Untuk menjawab pertanyaan itu ada dua jawaban yaitu :

  1. Menurut imam malik, bahwa orang yang telah menunaikan ibadah haji kemudian tidak melakukan ibadah tawaf wada itu tidak dikenakan denda tapi dengan syarat kalau orang tersebut masih berada di tempat yang dekat dengan Baitullah maka ia harus berpulang lagi untuk bertawaf.

  2. Menurut Abu hanifah dan ats tsauri bahwa orang yang telah mengerjakan ibadah haji dan tidak melakukan tawaf wada maka ia berkewajiban untuk membayar dam apabila tidak kembali. Sedangkan keharusan unutk kembali itu berlaku selama perjalanan belum sampai ke miqat.

Dan yang perlu difahami dan dimengerti bahwa tawaf wada sebagaimana disepakati para fuqaha tidak terhitung fardu. Tetapi meskipun demikian bilamana seorang itu telah berniat untuk melaksanakan ibadah haji maka semua pekerjaan haji harus diselesaikan semuanya dan tidak boleh ada yang ketinggalan trmasuk juga sunnahnya ( termasuk tawaf wada ) karena kesunakhan itu memounyai nilai tersendiri.

  1. Rukun Umroh

Tanya :

Pekerjaan apa saj ayang termasuk rukun umrojh ?

Jawab :

Adapun pekerjaan yang termasuk kedalam rukun umroh adalah di kategorikan sebagai berikut :

  1. Ihram beserta niatnya

  2. Sebanyak tujuh kali tawaf di ka’bah

  3. Sa’i antar bukit sofa dan marwah sebanyak tujuh kali

  4. Memotong rmbut setelah selesai sai di khususkan bagi kaum wanita.

  1. Perkara-Perkara Yang Diharamkan Didalam Ihram

Tanya :

Adakah perkara –perkara yang diharamkan dalam ihram itu ?

Jawab :

Ada. Perkara-perkara yang diharamkan dalam ihram itu adalah sebagai berikut :

  1. Menggunakan pakaian yang dijahit

  2. Menutupi kepakla bagi yang laku-lak dan wanita harus menutupi muka serta telapak tanannya

  3. Menggunakan sesuatu yang berbau harum bik itu yang laki-lak ataupun wanita

  4. Meminyaki rambut kepala dan janggut

  5. Mencukur ataupun mencabut rambut

  6. Memendekkan kuku

  7. Bersetubuh

  8. Memburu binatang

  9. Akad nikah

  10. Memotong tanaman di tanah suci.

  1. Perkara –Perkara Yang Membatalkan Ibadah Haji

Tanya :

Ada seorang suami istri yang mengerjakan ibadah haji kemudian mereka melakukan jima. Apakah yang dilakukan mereka itu dapat membatalkan ibadah hajinya. ?

Jawab :

Ya, jima yng disengaja bisa membatalakan hajinya dan oranga yang mengerjakan hal itu wajib menympurnakan ibadah hajinya. Selain iut juga ia wajib mengqodo pada tahun dibelakangnya setelah berkuasa untuk mengerjakannya. Kecuali itu orang tersebut juga diwajibkan untuk membayar denda yakni harus menyembelih seekor sapi atau kerbau atau tujuh ekor kambing.

BAB VII

TENTANG PERKAWINAN

  1. Pergi Berduaan Dengan Pacar

Tanya :

Apakah diperbolehkan seorang gadis pergi brduaan dengan pacarnya ke tempat umum atau berbicara melalui telepon ? sedangakan pacarnya itu berakhlak baik dan sudah berjanji akan menikahinya tetapi keadaan yang belum memungkinkannya .

Jawab :

Semua itu dilarang dan yagn boleh dilakukan oleh opacarnya itu hanya melihat sekali saja tetapi harus dihadiri oleh anggota keluarganya.

Memang banyak orang yang berlebih dalam pacaran apaklagi zaman sekarang ini. Kalau berpacaran tidak mengikuti tren atau ketinggalan zaman itu katany tidak seru.

Jadi pacaran anak zaman sekarang ini sudah berlebihan dan sudah melanggar norma-norma agama. Sehingga banyak terjadi kegagalan dan akhirnya si gadis yang menjadi korban

  1. Bertunangan

Tanya :

Apabila sudah terjadi pertunangan apakah boleh melakukan pergaulan bebas ?

Jawab :

Pertunangan itu bukan berarti suatu perkawinan. Sedangkan tata cara pergaulan bebas antara dua orang yang beartunangan seperti apa kita lihat sekarang ini tidak ada dalam ajaran islam.

Apabila orang bertunangan itu terlalu lama maka pertanda bahwa Allah itdak menghendakji berlangsunnya suatu pekawinan antara kedua belah pihak. Maka dari itu nabi menganjurkan setelah prtunangan alangkah baiknya bila perkawinan itu dipercepat. Selain itu juga dapat menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan dan menjauhkan dari segala macam fitnah.

  1. Takut Kawin

Tanya :

Sekarang ini banyak orang yang takut kawin. Alasannya keuangan dan tuntutan-tuntutan keluarga. Saebaliknya banyak istri-istri yang kawin cerai yang alasannya saebagai jalan yang terakhir untuk mengatasi kesulitan. Apa sebabnya ini ?

Jawab :

Tergantung pada diri mereka sendiri dan apa tujuan meraka kawin. Saedangkan meraka cerai sering melanggar tuntunan agama. Maka perceraian tidak akan mudah terjadi.

  1. Mengumumkan Perkawinan

Tanya :

Mengadakan pesta, musik, menyalakan lampu – lampu dan sebagainya saat perkawinan itu bagaimana hukumnya ?

Jawab :

Mengaenai pengumuman perkawinai itu perludilakukan agar semua orang tahu dan terhindar dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebab perkawinan yan duirahasiakan dan tidak ada orang yang tahu itu merupakjan perkawinan yang bathil serta tidak sah. Sedangkan pengumunman itu dengan mengadakan pesta musik dan dengan penerangan lampu-lampu itu adalah alah satu cara syarat dalam rangka untuk melindungi kehormatan dari tuduhan dan gangguan orang lain, tapi dengan satu syarat pesta itu tidak bertentanan dengan syar’i serta norma-norma yang lainnya. Adapun ditentukan prenikahan dengan ucapan sighat taklik itu adalah cara untuk melindungi wanita dari tindakan suami yang tidak bertanggung jawab atau suami yang sewenang wenang dalam masalah maskawin, nafkah dan lain sebaginya.

  1. Wania Diciptakan Dari Tulang Rusuk Yang Bengkok

Tanya :

Dimana ada hadits yang menerangakan bahwa Hawa itu diciptakan dari tulang rusuk Adam yang bengkok. Yang menjadi pretanyaan, apakah itu tidak mengurangi drajat kaum wanita ?

Jawab :

Tidak, hal iotu tidak mengurangi derajat kaum wanita. Bahwa hadits tersebut menguatkan kebenaran akan tugas-tugas wanita yang digariskan oleh Allah Ta’ala. Sedangkan Allah menciptakan tulang rusuk yang bengkok kerena jika lurus tentu saja tidak dapat berfungsi melindungi dada manusia.

Selain itu sifat tulang rusauk yang bengkok adalah untuk melindungi isi dada yang lemah. Kemudian tulang rusuk yang bengkok itu diluruskan maka akan patah atau putus. Lain lagi kalau sifat perasa, lemah lembut wanita itu bisa dibengkokkan, karaena sifat lemah lembutnya wanita mudah membungkuk –bungkuk untuk menggendong anaknya dengan perasaan yang senang serta penujh kasih sayang.

Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw

Tulang rusuk yang paling bengkok yaitu yang paling atas. Bila engkau hendak luruskan maka akan patah.”

Yang dimaksud : apabila engkau rubah fungsi tulang usuk yang bengkok itu maka akan patah, sedangkan sifat pertama seorang wanita itu adalah perasa, lemah lembut dan penuhj kasih sayang. Apabila sifat-sifat tersebut dirubah maka adan rusak.

Jadi kurang sempurna akal kaum wanit dibanding laki-laki itu diimbangi dengan sifat-sifat yang utama. Sebagaimana dalam sabda nabi yang berbunyi

Bahagiakanlah dirimu dengan sifat-sifat bengkok yang ada pada istrimu.”

  1. Jodoh Yang Seimbang

Tanya :

Apakah jodoh yang seimbang itu dalam pandangan agama ? dan mengapa keseimbangan itu menjadi syarat dalam sebuah perkawinan ?

Jawab :

Islam akan berbicara mengenai jodoh dan prkawinan yang seimbang antara suamidan istri kemudian keseimbangan yang dimaksud disini bukan keseimbangan dalam pengertian materi, sebagaimana yang ditafsirkan oleh golongan mater ial. Te tapi keseimbanan dalam segala hal.

Selain itu Islam juga mengajarkan untuk mencari jodoh yang seimbang dalam kejiwaan, seimbang dalm kesehatannya, seimbanga akhlaknya dan seimbang keyakinannya serta lain-lain.. kemudian poenilaian ini ditekankan olah islam supaya nantinya mereka bisa melahirkan anak-anak yang dapat tertampung dalam keluarga lyang shaleh baik demi pertumbuhan maupun pendidikannya.

Saebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi yang berbunyi :

pilihlah bagi tetesanmu sesungguhnya akar itu tersembunyi”

Yang dimaksud, bahwa segala macam tumbuhan itu akan tumbuh sesuai dengan akarnya.

  1. Memilih Pasangan Karena Akhalak Dan Agama

Tanya :

Pada awal saya berumah tangga, gaji suami saya hanya sedikit atau kecil. Dan pada akhirnya saya terpaks bekerja untuk membantu kebutuhannya, lalu gaji suami saya menjadi besar dan cukup untuk membiayai keluarga. Teta [i meskipun demikian saya dipaksa untuk bekerja terus, disamping mengurusi rumah tangga dan keluarga. Sedangkan alasan suami agar saya tetap bekerja adalah bahwa gaji saya masih dibutuhkan. Kemudian saya mersa berat untuk melakukannya maka dari itu saya mohon p etunjuknya ?

Jawab :

Dimana Nabi pernah bersbda :” Apabila datang kepadamu laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya maka terimalah dia. kalau tidak akan timbul fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar.”

Jadi keadaan yang anda alami itu adalah hukuman Alllah terhadap anda sebab perkawinan anda itu tidak berdasarkan pada ukuran serta penilaian Allah Ta’ala selain itu anda juga keliru dalam memilih pasangan hidup.

Maka dari itu memilih suami itu harus hati-hati dan tidk boleh asal dapet saja. Tidak memikirkan belakangannya. Kalau sudah terjadi demikian siapa yang rugi anda sendirikan, karena anda tidak memilih suami yang beragama dan berakhlah yang baik.

  1. Pernikahan Yang Sah

Tanya :

Apa yang simaksud pernikahan yang sah :

Jawab :

Yang dimaksud pernikahan yang sah adalah merupakan suatu pernikahan yang dilaksanakan atas dasar kehendak dari kedua belah pihak dengan ijab kabul dan dihadiri oleh para saksi.

  1. Kawin Dengan Perempuan Hamil

Tanya :

Setelah saya menikah selang beberapa hari baru aku mengetahui bahwa istriku itu hamil dari laki-laki lain. Kemudian apakah yang harus aku lakukan ?

Jawab :

Dimana perkawinan and itu tidak sah dan bathil, seseorang itu tidak boleh menyiram diatas tanaman milik orang lain. Sedangkan Allah Ta’ala m;enghukum para pelanggar di dunia sebelum disiksa nanti di akhirat.

  1. Berzina Lalu Menikah

Tanya :

Dimana ada seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita kemudian wanita tersebiut hamil. Setelh itu mereka dikawinkan. Apakah anak yng dikandung itu jadi sah anak suaminya ?

Jawab :

Apabila bibit pertamanya itu berasal dari lelaki yang menikahinya maka anak yang dikandungnya itu sah anak mereka, tetapi dengan satu syarat keduanya harus mengakui dengan sejujurr jujurnya. Namun bila siraman yang pertama itu bukan dari suaminya tetapi dari lelaki lain maka perkawinannya ;itu menjadi batal.

Jadi bisa dikatakan sah anaknya bila yang menyiram benih pertama itu laki-laki yang menikahiny. Tetapi bila yang menyiraminya itu lelaki lain maka pernikahannya menjadi batal.

  1. Pesta Ulang Tahun Kelahiran

Tanya :

Apakah diperbolehkan melakukan pesta ulang tahun kelahiran ?

Jawab :

Membuat gembira dan senang anak itu adalah merupakan tabi’at pokok yang sekaku ada dalam jiwa manusia. Tetapi harus dicegah bila terjadi pemborosan atau menggangu yang dapat merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Maka dari itu disunnahkan untuk melakukan aqiqah pada hari ketujuh keempat belas ataupun kedua puluh satu.

Mengadakan pesta uklang tahun dengan tata cara sebagaimana dilakukan oleh orang-orang nasrani atau orang yahudi yakni dengan menyalakan lilin, lagu-lagu ulang tahun memotong roti dan lain sebagainya. Sedangkan semua itu tidak ada ajarannya dan hukumnya adalah haram.

  1. Mengambil Uang Suami Tanpa Sepengetahuannya

Tanya :

Saya seorang wanita muslimah yang telah menunaikan ibadah haji dan bersuamikan seorang yang mampu. Kemudian mengenai keuangan berbeda-beda, apabila untuk dirinya dia sangat boros dan berfoya foya, tetapi bila untuk istri dan anaknya dia sangat kikir, sehingga nafkah yang dierikannya tidak cukup untuk memenuhi belanja satu bulan. Bagaimana hukumnya bila saya mengambil uang suami tanpa sepengaetahuanny dan uangnuya saya gunakan untuk mencukupi kebutuhan pokok rumah tangga. ?

Jawab :

Sebagaimana riwayat Hindun istri Abu Sufyan yang prnah bertanya kepada nabi Saw

Ya Rasulullah Abu Sufyan orang yan gsangat kikir apakah aku boleh mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya untuk belanja rumah tangga ? lalu Beliau menjawab : “ boleh, kamu boleh mengambil tanpa diketahuiny kekedar kebutuhan dan hindarilah yang berlebih lebihan.”

Jadi, anda boleh mengambil uang suami meskipun tanpa aepengaetahuannya dan uangnya sekedar untuk kebutuhan serta hindarkan yang berlebihan.

  1. Hak Talak Ditangan Wanita

Tanya:

Pada akhir-akhir ini banyak yang mengusulkan agar kekuasaan talak atau menceraikan itu ada di tangan kaum perempuan. Apakah hal itu diperbolehkan dalam agama?

Jawab:

Apabila sudah ada persetujuan antara calon suami istri dan erupakan syarat dalam akad nikah. Dimana calon istri diberikan hak untuk menceraikan suaminya dan hal itu tidak dilarang dalam agama.

Tetapi adakalanya juga si wanita mendapatkan calon suami yang cocok dengan idamannya, lalu si isti takut kalau suami berubah kawin dengannya bertujuan untuk menguasai hartanya emi kepentingan dirinya sendiri, maka calon istri terus membuat syarat tersebut. Kemudian calon suaminya juga menyetujuinya, maka tidak ada halngan apapun.

  1. Talak Tiga

Tanya:

Apakah talk tga dengan ucapa sekali saja itu hukumnya sah?

Jawab:

Apabila ucapannya oitu hanya satu kali maka hukumnya itu tidak sah. Sedangkan yang sah itu hanya talak satu. Sebagaimana Rasulullah Saw.pernah ditanya tentang serupa oleh sahabatnya. Kemudian beliau langsung bangun dan marah, lalu berkata:”Apakah dia mempermainkan kitabullah sedangkan saya masih berada di tengah-tengah kalian?”(Riwayat An-Nasai).

  1. Suami Khianat

Tanya:

Apakah diperbolehkan seorang istri mengampuni dosa pengkhianatan suaminya?

Jawab:

Anda itu tidak punya hak untuk mengampuni suami anda. Dan biarlah ia berurusan dengan AllahTa’ala atas penghianatannya itu. Selain itu anda tidak boleh terlalu menuruti emosi.

Tetapi bila hal itu benar-benar terjadi sebagaimana yamg anda terangkan, mak anda tidak boleh memberitahukan kepada orang lain ataupun keluarga sendiri. Dan anda sebaiknya diam, pura-pura tidak tahu. Selain itu anda boleh memperingatkan secara pribadi, tetapi bila tidaki bisa biar suami anda yang bertaggung jawab dihadapan Allah SWT.

  1. Wanita Penyebab Sial

Tanya:

Ada sebagian orang bahwa wanita itu penyebab sial dengan berpedoman pada salah satu hadits Rasulullah yang berbunyi:

Sial ada dalam tiga hal yaitu rumah (tempat tinggal) istri dan kuda (tunggangan).”

apakah hal itu benar?

Jawab:

Dimana hadits yang benar itu diriwayatkan oleh Aisyah ra.yang berbunyi:

Sahabat Abu Hurairah berjumpa dengan Rasulullah dan mendengar beliau bersabda:”Allah membinasakan kaum yahudi yang berkata: ”Sialan (nasib buruk) dalm tiga hal: rumah, istri, dan kuda. Orang hanya mendengar akhir ucapan beliau dan tidak mendengarkan awalnya.”

jadi, hadits yang dipertanyakan tidak benar, karena diriwayatkan dengan tidak seluruhnya atau sebagian saja. Lau yang benar sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.

Sedangkan Rasulullah Saw.tidak pernah menghina ataupun merendahkan derajat kaum perempuan ataupun menjadikan mereka sumber sial. Bahkan bliau sendiri menyalahkan dan mengutuk kaumYahusdi atas ucapannya tentang kesialan itu.

  1. Poly Gami

Tanya:

Apakah polygami itu ada sebelum islam atau islam yang memulai adanya polygami?

Jawab:

Polygami itu ada sebelum islam dan justru islam yang telah membatasi jumlah berpolygami, yakni sampai empat istri. Sedangkan ketentuan itu berlaku untuk semua kaum muslimin kecuali Rasulullah.

Sebagaimana sabda Rasulullah kepada para sahabat yang mempunyai istri lebih dari empat:

Peganglah (pertahankan) empat orang dan ceraikan seluruhnya (selebihnya).”

jadi itu merupakan bukti bahwa sebelum ada perintah tersebut diatas sudah ada yang berpolygami yang jumlahnya lebih dari empat. Kemudian orang-orang yang tidak mengerti menuduh bahwa islam malah membatasi dari jumlah yang tidak terbatas. Selain itu juga mereka menuduh, bahwa sabda Nabi yang berbunyi:

Peganglah (pertahankanlah) empat orang dan ceraikan keseluruhan (selebihnya).” Adalah mengharamkan istri-istri (yang lebih dari empat). Padahal perkawinan mereka sah dan berjalan baik.”

Dimana istri-istri yang di ceraikan itu boleh dikawini oleh orang lain dan tidak ada halangan bagi mereka untuk kawin lagi. Sedangkan waktu ditetapkan syari’at pembatasan sampai empat tiu Rasulullah Saw..sudah mempunyai istri sembilan. Lalu iotri-istri beliau itu ditetapkan sebagai kaum muslimin. Maka dari itu, diharamkan bagi kaum muslimin untuk mengawini ibunya sendiri. Apabila bagi istri-istrinya itu ada salah satu yang diceraikan, aka orang lain tidak boleh mengawininya. Oleh sebab itu Rasulullah Saw.mempertahankan dan beliau dilarang untuk enceraikannya.

  1. Polygami Dan Perceraian

Tanya:

Sekarang ini banyak kita jumpai orang yang berpolygami. Apa sebab orang yang berpolygami dan sebab apa islam memperbolehkan polygami?

Selain itu apa hikmahnya diizinkan dan diperbolehkan perceraian dalam islam?

Jawab:

Yang menyebabkan orang berpolygami itu adalah kaerna kebutuhan seks laki-laki itu lebih menonjol dibanding kaum wanita. Selain itu masa produktif sperma mereka berlangsung lama daripada wanita. Kondisi semacam inilah yang mendorong prilaku seksual lelaki untuk tetap menyalurkan kebutuhan biologisnya dibanding wanita. Apalagi kalau wanita sudah memasuki masa frigiditas, maka kebutuhan biologi wanita mengalami penurunan. Sedangkan yang lelaki tidak mau berhenti keinginan seksnya. Maka dari itu diizinkan bagi mereka untuk berpolygami dan selain itu juga menghindari penyimpangan seks dari jalur yang dibenarkan oleh agama.

Kemudian satu hal yang perlu diingat; kendati islam telah mengizinkan kaum lelaki untuk berpolygami, tidak berarti perizinan itu diberikan kepada setiap orang. Selain itu juga, ada beberapa persyaratan khusus bagi setiap orang yang mau berpolygami. Diantaranya adalah harus berperilaku adil, baik itu dalam soal materi, pembagian cinta, pergiliran dan lain-lain sebagainya. Dalam kondisibagaimanapun bila seorang laki-laki tidak mempunyai persyaratan seperti itu, makatidak ada kondisi bai dirinya untuk berpolygami.

Jadi, polygami yang diizinkan oleh islam itu untuk mngormati kedudukan kaum perempuan, daripada kebebasan seks yang ditiru oleh para penentang islam. Dengan menonjolkan persyaratan itu berarti islam mencegah tindakan biadab dan kesewenang-wenangan atas diri perempuan yang merupakan objek kebutuhan seks. Lain lagi kalau paham para penentang islam yang tidak mengakui polygami, meskipun aktivitas seks mereka didasari pada suka sama suka, tetapi yang pasti kaum perempuan yang lebih banyak dirugikan dan menjadi objek penderita. Sebab kaum lelaki sewaktu-waktu tidak mencintai dan menyayanginya dapat melepas tanpa melalui proses hukum. Apakah hal yang dmikian itu tidak menyakitkan bagi manusia yang berakal?

Kemudian banyak kejadian yang selalu mengira hukum dan dibebankan kepada kaum, padahal yang sebenarnya adalah bukan.

Dalam masalah polygami sebenarnya bukanlah hukum yang harus dicela ataupun dicekam, tetapi pelakunya. Demikian juga dengan perceraian, yang harus dicela dan dicekam bukanlah ”bolehnya cerai” tetapi mereka berdua yang bercerai harus dikecam dan dicela. Sedangkan sekarang ini, banyak kita jumpai kawin cerai dan itu semua disebabkan karena mereka menikah tidak berpedoman kepada ajaran serta tuntutan Allah.

Kemudian mereka memaksakan nikah tetapi dengan cara yang bertentangan dengan hukum islam. Apalagi bila pedoman dan cara nikah dan perkawinan tidak sejalan dengan tuntutan islam, maka segala kesulitan yang timbul tidak bisa diatasi serta tanggulangi dengan cara islam.

Tetapi bila benar-benar berpedoman dengan tuntutan islam, maka pasti tidak akan terjadi prceraian. Dan hal ii merupakan bukti kebenaran ajaran islam. Karena banya ulama-ulama besar dan orang-orang shaleh yang dapat hidup bahagia dan sejahtra dengan istri dan anak-anaknya. Selai itu mereka juga tidak ada gangguan ataupun ancaman berpolygami atau perceraian.

  1. Polygami Dalam Islam

Tanya:

Mengapa polygami dalm islam diperbolehkan, tetapi polygandri dilarang?

Jawab:

Kaena Allah Ta’ala emuliakan derajat kaum wanita. Sedangkan wanita yang tehormat tidak akan merelakan dirinya untuk disentuh oleh orang banyak dan ia hanya mau dengan satu orang saja, yakni seorang pendamping hidupnya (suami). Bahkan saking setianya pada suami meskipun sudah biasa ditinggal mati masih tetap tidakmau kawin lagi dan ia rela menjadi janda seumur hidupnya, walaupun sebenarnya agam memperbolehkan dia kawin lagi. Selain itu hidupnya hanya digunaka untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya serta merawat dan membesarkan anak-anaknya ataupun anak angkatnya bagi yang tidak punya anak.

  1. Suami Istri Bugil

Tanya:

Apakah diperbolehkan suami dan istri telanjag melihat kemaluan yang lain?

Jawab:

Seorang pasutri diperbolehkan telanjang dan melihat kemaluan yang lain, tetapi alangkah baiknya serta sopannya apabila saling menutupi. Seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhahu.

Jadi, akan lebih sopan jika mereka bedua saling menutupi dan menjaga, meskipun diperbolehkan.

  1. Berciuman Dengan Wanita Yang Sudah Ditalak

Tanya:

Apakah diperbolehkan wanita yang sudah dicerai oleh suaminya, lalu mereka berdua melakukan ciuman, karena tujuan mulia?

Jawab:

Apabila wanita sudah ditalak oleh suaminya, sementara asa iddahnya sudah habis, maka suaminya itu sudah menjadi orang lain, seperti orang laki-laki lainnya. Kalu sudah demikian, maka laki-laki itu sudah tidak boleh lagi menemui mantan istrinya apalagi kedatangannya itu dengan tujuan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Misalnya berciuman, berpelukan dan lain-lainnya. Sebaliknya si wanita, apabila tidak berduaan, maka wanita boleh menerima laki-laki, sebagaimana ia menerima laki-laki lain sesuai dengan batas-batas yang digariskan syari’at. Maksudnya harus ada orang lain disitu dan tidak berduaa saja serta tidak melakukan hal-hal yang diharamkannya.

Tetapi bila masa iddahnya itu belum habis dan tegolong talak raj’i, talak pertama atau kedua, maka wanita tersebut boleh beciuman, bahkan keduanya boleh menetap dalam satu rumah tangga sebagaimana layaknya. Tidak seperti sekarang ini , kebanyakan orang ketika talak jatuh langsung saja keluar dari rumah dan menuju keumah orang tuanya. Padahal Al-Qur’an menegaskan yang berbunyi:

Wahai Nabi, apabila engkau menceraikan istri-istrimu, maka hendaknya kamu menceraikan mereka pada waktu mreka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka (diizinkan) keluar, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, dan barang siapa yan melanggar hukum Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan (memberikan) suatu al yang baru.”(Q.S. At-Thalaq : 1).

Adapun maksud dari ayat itu adalah apabila si wanita tetap berada dalam rumah seperti biasanya dan siapa tahu pihak laki-laki yang menceraikan tadi berubah pikiran dan sadar, lalu kembali lagi menerima istrinya yang diceraikan tadi untuk membangun rumah tangga yang baru. Dalam kondisi talak raj’i seorang wanita dilarang pergi dari rumah dan sebaliknya dengan pihak laki-laki tidak boleh mengusir si wanita dari rumahnya, yang merupakan rumah keluarga itu.

  1. Talak Bid’i Yang Diharamkan

Tanya:

Saya seorang istri yang mempunyai dua anak, dimana yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Kemudian, di suatu hari saya dan istri saya terjadi perbedaan pendapat yang menimbulkan perceraian (talak). Seminggu setelah jatuh talak, ternyata istri saya itu sedang hamil tiga bulan. Lalu apakah talak yang telah saya ucapkan itu sah atau tidak?

Jawab:

Sebagaimana sabda nabi yang berbunyi:

Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak.” (HR. Abu Daud).

Talak dala syariat islam termasuk suatu pekerjaan yang dicela. Maka dari itu janganlah tergesa-gesa menjatuhkan talak, apabila tidak dalam keadaan yang sangat mendesak. Karena syariat juga memberikan kesempatan melalui iddah agar terjadi rujuk kembali dalam rumah tangga yag suci, yang tercerai berai hanyalah masalah yang sepelem tanpa alasan yang kuat. Kemudian, juga ada waktu-waktu tertentu bagi orang-orang yang hendak menceraika istrinya, agar tetap benar pilihan talak tersebut.

Hendaknya, talak itu dilakukan apabila istri dalam keadaan suci dan belum disetubuhi. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala yang berbunyi:

apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaknya kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).”(Q.S. At-Thalaq : 1).

Hikmahnya, apabila wanita sedang dalam keadaan haid sebenarnya dalam keadaan yang tidak wajar, makanya seorang suami tidak boleh menceraikannya, sampai dalam keadaan suci dan kembali pada kondisi normal. Begitu sebaliknya, apabila jiwa istri dalam kondisi suci, tetapi suami telah melakukan jima’ kepada istrinya dan dan barangkali istrinya menjadi hamil, sementara si suami tidak mengetahuinya, seperti kasus di atas.

Maka dari itu, sangatlah dianjurkan agar perceraian itu dilakukan ketika si istri dalam keadaan yang suci dar haid dan belum disetubuhi ketika suci ataupum dalam kondisi hamil, namun kehamilannya itu memang sudah jelas kebenarannya.

Lalu Imam Ahmad juga bekata:”Talak pada wanita yhamil adalah talak sunnah (ajaran Nabi), karena ada hadits dari Ibnu Umar, ”Maka hendaknya kamu menceraikan istrimu dalam keadaan suci atau hamil.”

Tetapi bila dicerai kemudia keadaan si wanita sedang haid atau dalam keadaan suci namun sudah disetubuhi, maka hal itu bukanlah merupakan sunnah tetapi tegolong dalam talak bid’i yang diharamkan. Tetapi talak tersebut masih sah dan tetap belaku?

Lalu jumhur ulama beropendapat bahwa talak tersebut masih tetap berlaku, meskipun hukumnya itu haram. Selain itu mereka juga menganjurkan agar suami mau rujuk kembali, bahkan sebagian ada yang mewajibkan untuk rujuk. Seperti mahzab Maliki da suatu riwayat dari Ahmad, dalam Bukhari Muslim. Bahwa ia menalak istrinya, dalam keadaan haid. Kemudian Nabi memerintahkan agar rujuk kembali.

Sedangkan secara tekstual, perintah tersebut menunjukan wajib, tetapi ada sebagian kelompok ulama yang mempuyai pendapat lain, bahwa talak tersebut sudh tidak berlaku lagi. Sbab talak tersebut tidak disyariatkan Allah Ta’ala dan sekaligus tidak diizinkan. Terus bagaimana mungkin diperlakukan apabila syari’at saja tidak mengijinkannya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shahih yang berbunyi:

Siapa saja yang melakukan amal yang bukan perintah kami, maka amal tersebut ditolak.”

  1. Istri Bertemu Dengan Mantan Suami

Tanya:

Apakah diperbolehkan seorang wanita bertemu dan berbicara dengan mantan suaminya?

Jawab:

Apabila seorang wanita yang sudah bersuami istri kemudian diceraikan oleh suaminya dan masa iddahnyapun sudah habis, maka mantan suaminya tadi sudah menjadi orang lain baginya. Mereka boleh bertemu aasalkan tidak boleh berduaan saja, sebab jika haya berdua saja yang pasti ada yang ketiga yaitu syaitan. Selain itu mantannya sudah tidak mahromnya lagi dan hukumnya pun sudah haram, maka mereka dilarang berjumpa hanya berduaan saja dan bila ingin berjumpa sebaiknya harus ada yang menemaninya dan bukan berduaan melainkan bertiga. Kemudian Nabi Saw. Juga bersabda yang berbunyi:

Dan tiada yang berduaan laki-laki dan perempuan, kecuali yang ketiganya adalah syetan.”

Tetapi bila pertemuannya itu tidak berduaan dan dengan batas-baas syariat agama, adab kesopanan dan dihadapkan kepada orang banyak serta telah berakhir masa iddahnya, maka hal tersebut tidak dilarang.

Lain lagi bila dalam masa iddah dari talak ruj’i yang pertama ataupun yang kedua, maka tidak ada halangan lagi bagi mereka berdua untuk bertemu berduaan. Bahkan islam telah menganjurkan mereka untuk tetap tinggal dalam satu rumah. Tetapi, sekarag ini banyak kita jumpai kesalahan dan pelanggaran terhadap norma-norma agama, yakni bila istri diceraikan, lalu marah, malu kemudian pergi meninggalkan rumah dan pergi ke rumah orang tuanya atau si suami yang mninggalkan rumah. Lebih buruk lagi jika suami yang menceraikannya, lalu mengusir istrinya untuk pergi dari rumah.

Jadi wanita yang telah diceraikan oleh suaminya, lalu masa iddahnya telah selesai, asalka tidak berduaan dan harus ada yang menemannya. Selain itu juga harus dihadapkan kepada orang banyak dan memenuhi batas-batas syari’at agama serta dengan adab kesopanan.

  1. Suami Pertama Muncul

Tanya:

Saya mempunyai seorang suami yang iktu perang dan sudah beberapa tahun lamanya tidak pernah pulang, bahkan kabarnyapun tidak pernah ada. Kemudian saya menikah lagi dengan orang lain dan tidak lama kemudian suai saya datang. Bagaimana hukumnya?

Jawab:

Anda harus melaporkan masalah anda itu kepada pengadilan agama agar masalahnya cepat terselesaikan.

  1. Cerai Sebelum Bersetubuh

Tanya:

Saya menikah dengan seorang gadis dan dalam waktu satu minggu itu saya belum pernah menyentuhnya, bahkan bersetubuh. Lalu ia menjatuhkan talaknya. Apakah wanita tersebut mempunyai iddah da berhak atas maskawin yang telah diberikan?

Jawab:

Sebagaiman dalam firman Allah yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi wanita-wanita yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah (pemberian yang menyenangkan hati) dan lepaskanlah mereka itu dengan cara sebaik-baiknya.”(Q.S. Al-Ahzaab : 49).

Jadi dari ayat diatas jelas, bahwa wanita yang belum disetubuhi, lalu diceraikan itu tidak mempunyai iddah. Mengapa demikian, karena itu mengandung beberapa hikmah,yang mencerminkan dua ketentuan. Yang pertama, bebas rahim, barangkali ada hal-hal yang tersisa dari laki-laki yang menyetubuhinya, lalu wanita wanita itu tidak mengetahuinya. Maka dari itu, kondisi wanita harus suci, hingga jelas tidak ada benih dari laki-laki yang menjadi suaminya itu. Kemudian yang kedua, iddah dijadikan sebagai sulaman bagi kehidupan keluarga yang berlalu itu. Tampaknya tidak etis kalau wanita yang pernah hidup dengan laki-laki dalam waktu yang relatif panjang ataupun singkat kemudian langsung meninggalkan laki-laki itu untuk pindah ke laki-laki lainnya. Dengan jangka waktu satu atau dua hari setelah diceraikan. Sementara suami istri yang belum pernah bersetubuh, tentu tidak mengandung suatu benih dari suamunya itu dan si wanita itu masih bersih.

  1. Mahar Dicabut Kembali

Tanya:

Orang yang belum satu minggu menikah, kemudian tidak ada kecocokan dan ia menghendaki talak. Apakah maharnya itu boleh dicabut kembali?

Jawab:

Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala yang berbunyi:

apabila kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menggauli mereka, padahal kamu telah menentukan maharnya bayarlah seperdua dari jumlah yang telah kamu tentukan.” (Q.S. Al-Baqarah : 237).

Kemudian Fuqaha juga berpendapat: ”Apabila suami menceraikan istrinya sbelum terjadi aktivitas seks. Sedangkan ia telah menentukan jumlah mahar yang dijanjikannya, maka pihak suamu boleh meminta kembali separoh dari jumlah mahar yang sudah ditentukan.

Jadi, yang perlu diingat, bagaimana bentuk talak tersebut. Apakah terjadinya talak itu disebabkan karena untuk membatalkan pernikahan ataupun sebab lain. Kemudian talak yang mengharuskan untuk pembagian mahar menurut Ibnu Rusyd adalah bila perceraian itu terjadi atas kehendak suami dan bukan dari pihak istri, misalnya si istri sudah tidak suci lagi atau telah hamil dan lain sebagainya. Tetapi bila talak tersebut karena faktor fasakh dan buka karena secara murni, maka tidak diwajibkan untuk pembagian mahar. Sedangkan persoalan tersebut tidak diperselisihkan oleh para fuqaha’, sebab yang membuat terjadinya perpisahan itu memang dari faktor fasakh bukan atas kemauan siapa-siapa.

Tetapi mahdzab Zhahiri yang tidak sependapat dengan adanya persyaratan itu (tuntutan suami atau istri). Lalu mereka berpendapat : bahwa setiap talak tersebut terjadi akibat dari kehendak itu karena faktor fasakh dan bukan sebab lain, maka tidak ada pemarohan mahar atau tidak ada pembagian mahar.

  1. Masa Iddah Laki-Laki

Tanya:

Apakah suami yang ditinggal mati oleh istrinya itu iddahnya sama dengan istri yanng ditinggal mati suaminya?

Jawab:

Yang dimaksud dengan iddah adalah tenggang waktu tertentu untuk menghilangkan bekas-bekas dai perkawinan terdahulu, baik yang disebabkan karena wafat atau cerai.

Seorang laki-laki tidak diwajibkan untuk menanti berlaku waktu tertentu, sebab ketika istri masih hidup pun dia diperbolehkan untuk kawin lagi apalagi kalau istri sudah meninggal. Tetapi bila diceraikan itu istri yang ke empat, maka suami masa iddah istri yang diceraikan itu habis. Sebab seorang suami tidak diperbolehkan untuk menghimpun lebih dari empat istri, baik dalam nikah sah yang masih berlaku ataupun dalam iddah.

Adapun larangan yang lainnya, bila suami menceraikan istrinya dan hendak mengawini wanita yang tidak boleh dihimpunnya (contoh: kakak/adik, istri), maka ia harus menunggu sampai masa iddahnya itu habis dan setelah itu ia baru diperbolehkan untuk mengawininya (kakak/adik, mantan istrinya).

  1. Wanita Yang Terlarang Dinikahi

Tanya:

Siapa sajakah yang terlarang untuk dinikahi dan apa sebabnya?

Jawab:

Persoalan yang semacam ini yang perlu diingat dan diperhatikan, sebab menyangkut masalah prinsip, bahwa semua wanita itu dapat dinikahi, ada wanita yang haram untuk dinikahi hanya dengan batas waktu tertentu saja.

Secara mutlak, wanita yang diharamkan untuk dinikahi itu dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu:

a). Hubungan keluarga

  • Ibu

  • Saudara perempuan ayah

  • Saudara perempuan ibu

  • Saudara perempuan

  • Anak perempuan

  • Anak keponakan (anak peempuan dari saudara laki-laki)

  • Anak keponakan (anak perempuan dari saudara perempuan)

b). Hubungan Perbesanan.

  • Istri dari anak

  • Istri ayah atau ibu tiri

  • Mertua, nenek mertua dan selanjutnya keatas

  • Anak tiri yang ibunya sudah digauli. Termasuk cucunya, baik dari pihak anak-anaknya yang perempuan ataupun dari pihak anak-anaknya yang lali-laki

c). Hubungan susuan

Wanita yang dilarang dinikahi yang disebabkan susuan adalah:

  • Ibu susuan

  • Saudara perempuan dari ibu susuan (bibi)

  • Saudara perempuan dari bapak susuan (bibi)

  • Ibu dari ibu susuan (nenek)

  • Cucu perempuan dari ibu susuan. Baik yang berasal dari pihak laki-laki ataupun perempuan, yakni anak-anak perempuan dari saudara laki-laki atau saudara wanita (keponakan).

  • Ibu dari suami ibu susuan (nenek)

Jadi ketiga kelompok wanita yang tersebut diatas itu tidak boleh dinikahi untuk selama-lamanya da begitu pula dari pihak perempuan selamanya dilarang mendapatkan lelakinya.

Syarat sahnya Perkawinan

Tanya:

syarat-syarat apasajakah yang harus dipenuhi guna mendukung sahnya suatu perkawinan?

Jawab:

jadi syarat sahnya suatu perkawinan itu dikelompokan menjadi dua bagian yaitu:

  1. perempuan yang dinikahi itu harus halal, artinya perempuan itu disyaratkan tidak berada dalam status yang diharamkan, baik itu yang bersifat sementara ataupun selamanya. Misalnya untuk yang bersifat sementara adalah saudara ipar dan wanita yang masih mempunyai ikatan dalan perkawinan. Lalu yang bersifat untuk selamanya adalah muhrim dengan segala macam cabangnya.

  2. Harus adanya kesaksian terhadap perkawinan tersebut. Lalu jumhur ulama juga berpendapat bahwa perkawinan tidak berlaku kecuali dengan adanya kesaksian dan kesaksian itu dapat menjadi sah apabila para saksi itu ikut hadir saat berlangsungnya akad nikah.

Jadi, bila kedua hal itu telah dipenuhi, maka perkawinan itu akan menjadi sah.

  1. Akad Nikah

Tanya:

Apakah yang menjadi syarat khusus ijab kabul dan bagaimana syarat tersebut tidak dipenuhi?

Jawab:

Adapun syarat ijab kabul yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

  1. Kedua mempelai yang akan berakad itu harus telah mumayyiz. Apabila salah satu dari mereka ada yng mempunyai penyakit gila atau usianya belum mumayyiz, maka perkawinan mereka itu tidak sah.

  2. Mereka berdua yang akan melangsungkan akad nikah hendaknya mendengar ijab kabul itu dan diketahui pula maksudnya.

  3. Kesatuan majelis ijab dan kabul, maksudnya ijab dan kabul tidak dipisah-pisahkan, baik itu tempat ataupun waktunya juga perbuatan yang lainnya.

  4. Kabul tidak boleh menyalahi ijab, kecuali bila lebih menguntungkan bagi pihak yang berijab. Sebab dengan begitu persetujuan mereka akan lebih mantap dan kuat.

Jadi, dengan berdasarkan pada ketentuan diatas, maka ijab kabul akan menjadi sah dan bila salah satu ada yang kurang, maka ijab dan kabulnya menjadi tidak sah.

  1. Perkawinan Wanita Pelacur Atau Laki-Laki Pelacur

Tanya:

Apakah diperbolehkan wanita baik-baik menikah dengan laki-laki penzinah atau sebaliknya?

Jawab:

Sebagaiman dijelaskan dala firman Allah yang berbunyi:

Laki-laki penzinah tidak boleh menikah kecuali dengan wanita penzina atau wanita musyrik, dan wanita penzina tidak boleh menikah kecuali dengan laki-laki penzinah atau laki-laki musyrik. Yang demikian diharamkan atas orang-orang yang beriman.”(Q.S. An-Nuur:3).

Jadi dari ayat tersebut jelas, bahwa lelaki baik-baik tidak halal menikah dengan wanita pelacur, begitu sebaliknya wanita baik-baik tidak halal menikah dengan laki-laki penzina atau lelaki hidung belang. Sesungguhnya permasalahan ini termasuk dalam batas larangan menikahi seseorang hingga ada ketentuan yang memperbolehkan. Sedangkan ketentuan yang memperbolehkan seseorang menikahi pelacur atau menikah dengan laki-laki penzina ialah bila dirinya telah bertobat dan tidak ada dalam hatinya sedikitpun untuk mengulangi perbuatannya itu. Dalam arti dirinya sudah tidak lagi menyandang sebagai pelacur.

Kemudian ada sebuah riwayat dari Umar bin Syuaib : dimana di mekah itu ada seorang pelacur yang bernama Unak. Lalu ia mempunyai teman benama Martsad. Pada suatu hari Martsad pergi menghadap Rasulullah Saw.dan bekata :”Wahai Rasulullah, bolehkah saya menikah dengan unak?”Mendengar pertanyaan Martsad, beliau diam tidak menjawab sepatah katapun. Kemudian turunlah surat An-Nuur ayat 3, sebagaiman disebutkan diatas yag isinya tidak mengijinkan lelaki baik-baik menikah dengan seorang pelacur. Setelah itu Martsad melanjutkan ceritanya dan tidak lam kemudian ia dipanggil oleh Nabi dan dibacakan ayat tersebut. Terus beliau berkata :”Kamu janganlah menikahinya !”

  1. Mahar Yang Ditunda

Tanya:

Bagaimanakah pandangan syaiah tentang penundaan pembayaran mahar, apakah hal itu diperbolehkan?

Jawab:

Adapun secara syar’i seorang suami boleh mempercepat dalam pembayaran mahar, baik dengan secara utuh ataupun dengan sebagian pada saat pernikahannya. Tetapi menangguhkan pembayarannya mahar juga diperbolehkan atau membayar sebagian dan ada sebagian ditunda. Sedangkan cara yang terbaik adalah dengan membayar secara seketika dn tidk menundanya. Kalaupun tradisi di daerah tidak mempermasalahkan tentang pembayaran mahar yang tidak lunas seketika juga tidak apa-apa asalkan tidak ada dihati suami untuk menolak melunasinya. Sebab tradisi dari desa satu dengan desa lainnya adalah tidak sama.

Kemudian riwayat ibnu Abbas ra.yang berbunyi:

Bahwa Nabi Saw. Mencegh Ali ra.menggauli fatimah hingga beliau (Ali ra.) memberikan sesuatu sbagai mahar kepadanya terlebih dahulu. Ali ra berkata: dimana saja batu Huthaniyah yang kamu miliki? Maka Ali pun memberikan baju besi itu kepada Fatimah.” (Riwayat Abu Daud, An Nasai dan Ali hakim).

Secara jelas riwayat tersebut menunaikan pembayaran mahar sebelum melakukan aktivitas seks. Tetapi beberapa ulama menganjurkan kaum laki-laki agar tidak mendatangi istri-istrinya sampai diberi mahar terlebih dahulu.

Lalu Az Zuhri juga mengatakan : menurut ajaran sunah yang kami terima hendaknya seorang suami janganlah menemui istrinya sebelum dia memberikan nafkah ataupun menyediakan busana untuk dirinya. Sedangkan yang demikian itu merupakan amalan yang lazim dilakukan oleh kaum muslimin.

  1. Barang Lamaran

Tanya:

Menurut tradisi zaman sekarang ini, sbelum nikah diadakan acara lamaran. Apakah barang lamaran itu bisa dinamakan mahar?

Jawab:

`Menurut Imam Syafi’i barang lamaran itu adalah barang lamaran yang diberikan kepada pihak lelaki kepada calon mempelai wanita sebagai wujud ikatan pra nikah, dan tidak bisa dikatakan sebagai mahar. Sedangkan barang lamaran itu mempunyai makna tersendiri. Yakni sebagai hadiah dan tali pengikat pertunangan. Lalu barang lamaran itu sewaktu-waktu boleh dibatalkan, apabila timbul suatu masalah yang menuntut untuk membatalkan pertunangan, baik itu dari pihak wanita ataupun pihak laki-laki.

Lain lagi dengan mahar, sebab mahar itu mempunyai kedudukan sebagai salah satu syarat sebuah perkawinan, maka yang wajb diberikan dari pihak suami pada saat berlangsungnya upacara perkawinan. Meskipun membayarnya itu tidak harus lunas seketika. Sedangkan ketentuan bentuk mahar itu boleh dituntut oleh pihak istri sesuai dengan kemampuan suami, tetapi bila bentuk lamaran tidak ada tuntutan besar kecilnya.

  1. Membagi Harta Waris Ebelum Wafat

Tanya:

Bibi saya telah embagi hartanya kepada ahli warisnya semasa hidupnya dan menyisihkan sebagian untuk keperluan serta kebutuhannya menjelang sisa hidupnya. Apakah hukumnya apabila bibi saya itu tidak mempunyai anak laki-laki dan apakah perbuatan itu sah meurut agama?

Jawab:

Dibenarkan, membagi kan kepada ahli waris sebelum wafat. Tetapi dengan catatan harus berbuat adil dan bijaksana tidak boleh pilih kasih satu dengan yang lainnya.

Disalahkan jika ia tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai anak perempuan saja. Lalu membagikan seluruh hartanya kepada anak perempuannya dan menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan dari warisan tersebut dan ahli waris lain yang tidak disenangi. Apabila itu tujuannya maka ia telah berbuat zalim. Sedangkan yang dibenarkan ialah apabila ia itu hanya mempunyai anak perempuan saja, maka yang jadi ahl warisnya juga adalah anak-anak perempuannya. Selain iotu paman-pamannya juga berhak dapat warisannya tersebut.

Tujuan mereka apabila mendapatkan warisan agar hubungan mereka (paman-pamannya dengan anak-anak perempuan) tetap berjalan dengan baik dan erat. Selain itu jika suatu saat mereka membutuhkan, maka paman-pamannya itu dapat menolongnya dan gitu sebaliknya mereka bisa menikmati harta paman-pamannya.

  1. Hak Orang Tua

Tanya:

Apa sajakah yang menjadi hak orang tua terhadap anaknya?

Jawab:

Dimana ada seorang anak yang bertanya kepada Nabi Saw.sama seprti itu, tanyanya adalah:

Apakah hak orang tua tehadap anaknya?” mendengar pertanyaan itu Nabi Saw.menjawab:”Mereka itu adalaha surgamu dan nerakamu.” (Riwayat Ibnu Majah)

  1. Berbakti Kepada Orang Tua Yang Telah Meninggal

Tanya:

Bagaimanakah caranya kita berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia?

Jawab:

Dimana ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Saw.sam seperti itu, tanyanya adalah:

Ya Rasulullah apakah aku masih bisa berbakti kepada ayah dan ibuku yang telah meninggal?”

kemudia beliau menjawab:”Bisa! Engkau dapat melakukannya dengan empat cara.”

  1. Beristigfarlah kepada Allah untuk kedua orang tuamu yang telah meniggal.

  2. Menjalankan amanah dan wasiatnya.

  3. Hormat kepada sahabat akrabnya.

  4. Selalu menjalin silaturami terhadap keluarga mereka.

Jadi, ke empat perkara itu yang dapat anda lakukan untuk berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia. (Riwayat Imam Ahmad).

  1. Bakti Anak

Tanya:

Bagaimanakah kita berbakti kepada orang tua?

Jawab:

Ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw.tentang bakti kepada kedua orang tua. Kemudian Nabi balik bertanya kepada orang itu:”Apakah ibumu masih hidup?” lalu orang itu menjawab :”Masih ya Rasulullah.” ”Hendaknya kamu tunduk di lututnya dan itulah surga.” kemudian ada sabdanya lagi yang berbunyi:”Aku heran kepada orang yang sempat mengalami kehidupan orang tuanya dalam usia lanjut, tetapi dia tidak masuk surga.” (Riwayat dari Hadits Shahih).

  1. Mendidik Anak Kecil

Tanya:

Bagaimanakah caranya menanamkan kepada anak kecil itu bahwa Allah Ta’ala itu ada?

Jawab:

Pertama-tama anak kecilharus di ajarkan baca ”Bismillah” bila akan maka ataupun memulai suatu pekerjaan dan ”Alhamdulillah” setelah makan ataupun minum dan melakukan suatu pekerjaan. Selain itu kita juga harus menjelaskan kepada si anak bahwa tanaman bisa hidup, hewan bisa hidup, hujan turun ke bumi dan burung bisa terbang, itu semua adalah ciptaan Allah Ta’ala. Sedangkan buah-buahan diciptakan oleh Allah untuk manusia.

  1. Menakut-Nakuti Anak

Tanya:

Apakah menakut-nakuti anak dengan siksa neraka bisa berakibat negatif?

Jawab:

Tidak, tapi penjelasannya harus di sampaikan dengan penuh bijaksana dan juga melalui tahapan-tahapan. Selain itu berilah penjelasan kepada si anak mengenai kehidupan berikutnya, yakni Surga. Agar dia sangat mengharapkan surga dan takut kepada neraka.

  1. Mendidik Anak Kepada Islam

Tanya:

Dimana ibu itu mempunyai perana utama dalam mendidik akhlak anak kepada agama. Dibanding dengan ayahnya. Maka dari itu anak lebih senang bergaul dengan ibunya daripada ayahnya. Maka dari itu, anak lebih senang bergaul dengan ibunya daripada kepada ayahnya. Lalu bagaimana caranya agar si ibu dapat mendidik anaknya dengan mudah ditengah tugas-tugas lain dalam kehidupan dunia yang bertambah ramai ini?

Jawab:

Sudah dapat di pastikan bahwa rusaknya akhlak anak itu akibat kurang perhatia dari ayah dan ibu terhadap pendidikan agama bagi anak-anak mereka dimasa kecilnya. Selain itu persoalan sendiri dan kepentingan dirinya yang menyibukkan mereka serta urusan dunia yang menguras seluruh waktunya dan pada akhirnya membuat mereka lupa akan tanggung jawab kepada anak-anaknya.

Maka dari itu, bapak dan ibu harus bisa meluangkan waktu barang satu jam setiap harinya dan waktu yang sedikit itu harus dimanfaatkan dengan seaik-baiknya untuk mendidik anak-anaknya, misalnya di waktu makan dan shalat berjama’ah.

Selain itu, orang tua harus membiasakan anak untuk bertanya dan mengajak tukar informasi atau yang lainnya, agar orang tua dengan anak-anaknya bertambah kokoh ikatannya dan membuka jalan bagi anaknya dalam mengungkap masalah-masalah pribadinya. Kalau sudah demikian, maka akan tercipta cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya. Lalu kesulitan yang dihadapi oleh anak pun mudah diatasi, sebab antara anak dan orang tua ada keterbukaan serta kejujuran.

Adapun salah satu tujuan utama perkawinan dalam islam adalah untuk terciptanya cinta dan kasih sayang yang menyebabkan suburnya kasih sayang ialah anak-anaknya. Maka dari itu, seharusnya cinta dan kasih sayang itu tersalur terus dari hati kedua orang tua untuk anak-anaknya. Lalu cinta kasih anak-anaknya itu berbalik kepada orang tuanya juga, saudara, kerabat, tetangga, masyarakat, dan bangsa serta semua umat islam sedunia.

  1. Ayah Bertindak Sewenang-Wenang

Tanya:

Dimana ayahku itu telah menceraika ibuku dan waktu itu aku belum lahir. Kemudian setelah aku lahir dan beruur kira-kira 12 tahun aku ikut bersama bapakku. Dan sejak itulah aku dikurung dalam rumah dan tidak boleh keluar dari rumah, sampai-sampai membuka jendela pun aku dilarang. Selain itu juga aku dilarang engunjungi ibuku.

Pada suatu hari, bapakku didatangi oleh seorang pemuda dan kedatangannya itu untuk melamarku. Sedangkan agama dan akhlak pemuda itu sangat baik. Aku mendengar itu sangat senang dan gembira sekali, tetapi lain dengan bapak. Dia sangat marah dan tidak senang, lalu menolak lamaran pemuda itu yang alasannya pemuda itu masih ada hubungannya dengan ibuku. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah aku akan dimurkai oleh Allah SWT., apabila aku menerima lamaran pemuda tersebut dan melangsungkan perkawinan tersebut dirumah ibuku?

Jawab:

Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan sdil. Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena ia lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. ”(Q.S. Al-Maidah : 8).

Jadi bapakmu itu tidak berhak untuk melarangmu dan menolak pemuda yang melamar anaknya. Hanya karena alasan pemuda itu masih ada hubungannya dengan istrinya. Selain itu, bapakmu telah berbuat dosa dengan sikapnya yakni menolak lamaran pemuda yang jelas-jelas berakhlak baik dan shaleh. Karena kamu sudah dewasa maka kamu berhak menentuka pilihan yang menurut kamu baik dan benar. Lalu carilah wali lain yang dapat mengawinkanmu dengan pemuda saudara ibumu itu. Selain itu kamu juga boleh melangsungkan pernikahanmu dirumah ibumu, apabila bapakmu keberatan untuk menikahkannya.

  1. Berwasiat Dengan Seluruh Harta

Tanya:

Pada suatu hari kakak perempuanku itu mewariskan semua hartanya kepada salah satu keluargaku. Apakah hal itu diperbolehkan dalam islam?

Jawab:

Sikap kakak anda itu sangat tidak dibenarkan oleh islam, karena akan mengakibatkan ahli warisnya itu tidak akan mengakibatkan ahli waris yang lainnya tidak mendapatkan bagian yang sah menurut syari’at islam. Walaupun itu merupakan hak miliknya, tetapi sikap kakak anda itu tidak dibenarkan berwasiat sepertiga dari seluruh hartanya. Sedangkan yang duapertiga adalah merupakan hak Allah yang diatur sesuai dngan kehendak-Nya dalam hukun waris.

Sebagaimana firman Allha dalam surat An-Nisaa ayat 11. kemudian orang mu’min itu tidak meninggalkan warisak kepada siapa yang dikehendaki, melainkan hanya yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

Selain itu, kakak perempuanmu juga tidak mempunyai wewenang untuk menentukan kecuali terhadap yang sepertiga saja dan meninggalkan duapertiga kepada ahli waris yang berhak. Sedangkan yang sepertiga itupun tidak boleh diberikan pada mereka yang termasuk ahli waris. Apabila akan memberikan wasiat kepada ahli waris, maka harus dengan persetujuan semua ahli warisnya.

  1. Waris Untuk Wanita

Tanya:

Mengapakah islam mengatur pembagian waris waris untuk wanita wanita hanya setengah dari laki-laki?

Jawab:

Didalam islam anak yang belum menikah itu menjadi tanggung jawab walinya, tetapi bila yang sudah menikah, maka menjadi tanggung jawab suaminya.

Jadi wanita itu dijamin nafkahnya, baik itu sebelum atau sesudah menikah. Lain lagi bila seorang istrinya itu dari seorang yang kaya raya, maka tidak ada kewajiban untuk menafkahi. Walaupun suaminya itu miskin, bahkan kalau sampai harus mencari hutangpun tidak diwajibkan kepada istrinya.

Memang, tanggung jawab seorang laki-laki itu besar dibanding wanita. Contohnya, bila seoang laki-laki akan menikah, ia harus menyiapkan segala-galanya, baik itu rumah isinya dan nafkahnya. Sedangkan seorang laki-laki mendapat warisan duapertiga dan yang sepetiga dibagikan kepada wanita. Maka dari itu seorang laki-laki harus memikul beban dan tanggung jawabnya, tetapi lain dengan wanita. Walaupun ia menerima sepertiga warisan ia tetap tidak dibebani apa-apa dan uang yang sepertiga itupun tetap utuh.

Jadi, salah bila ada yang mengatakan bahwa islam itu tidak adildalam pembagian warisan. Bahkan islam itu sangat adil dalam pembagian warisan. Sedangkan memberi sepertiga warisan kepada wanita itu sudah menjadi ketentuan. Dan ketentuan Allah itu pasti ada hikmahnya. Sebab karena itu mereka harus berkata :”Mengapa islam terlalu memanjakan wanita dan memberatkan laki-laki?

  1. Wanita, Warisan Dan Wasiat

Tanya:

Ada seorang gadis bertanya, “Bapakku telah meninggal dunia seketika umurku barulima tahun dan bapakkuitu mempunyai saudara laki-laki yang memiliki banyak anak. Selain itu nenekku juga masih hidup, lalu harta kekayaan nenekku itu semua diberikan kepada pamanku. Sedangkan akun tidak diberi sedikitpun oleh nenek.”

Apakah aku mempunyai hak untuk mendapatkan warisan dari nenek dan alasan nenek tidak memberi harta warisan kepada saya, karena takut kalau ibuku itu menikah dengan orang lain.

Jawab:

Dimana anda tidak mempunyai hak untuk meminta warisan kepada nenekmu, karena anda telah tertutup (mahjub) oleh pamanmu. Andaikata anda itu seorang laki-laki, tetapi anda tidak memperoleh harta warisan dari nenekmu. Misalnya saja nenekmu yang menginginkan anda mendapatkan wasiat, itupun jumlahnya tidak banyak yakni hanya sepertiga dari semua hartanya dan tidak boleh hartanya diberikan kepada siapapun yang menjadi ahli waris.

Kemudian yang menjadi syarat sahnya wasiat yaitu harus dengan persetujuan ahli warisnya, supaya tidak sampai terjadi kezaliman terhadap ahli waris.

  1. Pemberian Seorang Ibu Kepada Putrinya, Tanpa Seizin Bapaknya

Tanya:

Timbulnya kesalah pahaman antara ayah dan putrinya yang sudah menikah, yang menyebabkan putus hubungan antar keduanya. Sampai-sampai tidak ada tegur sapa antara bapak dengan putrinya. Meskipun demikian ibunya masih menemui anaknya dan memberikan barang kebutuhan sehari-hari dengan tanpa sepengetahuan suaminya. Sedangkan sang bapak pernah mengatakan, ”Siapapun yang tidak mau berbicara maupun berhubungan dengan saya, mak ia tidak akan memakan kebaikanku.” Lalu bagaimanakah menurut pandangan anda mengenai hal itu dan apakah diperbolrhkan ibunya itu?

Jawab:

Apa yang diucapkan sag ayah itu benar, karena seorang anak tidak bisa memutuskan hubungan dengan ayahnya. Lalu mengenai sikap si ibu juga tidak dibenarkan. Karena selalu bertentangan dengn dua hal yaitu:

  1. Seorang istri tidak mempunyai hak untuk mentasarufkan harta suaminya kecuali mendapat izinnya, baik itu secara lisa ataupun secara tindakan. Jika tidak mendapat izin dari sorang suami maka istri tidak boleh menyimpang dari ketentuan suami, termasuk melakukan hal-hal yang tidak diizinkan.

  2. Seorang ibu yang memberikan kebutuhan secara diam-diam dan tanpa mendapat izin dari suami dan seakan-akan ia mampu memuaskan putrinya. Padahal yang demikian itu akan menjauhkan hubungan antara bapak dengan anaknya. Seharunya ibu itu harus bisa mendudukan seorang pesoalan anak pada posisi lain dan menjelaskan betapa ia sangat butuh kepada sang bapak. Selain itu, si anak harus diberi saran agar mau berhati baik dan tidak memutuskan hubungan dengan bapaknya. Sebab seorang bapak itu mempunyai hak yang sangat besar yang seharusnya diketahuidan ditepatinya.

Jadi, bila meraka masih saja berlangsung aksi pemutus hubyngan, maka semua pihak yang terlibat baik itu secara langsung aaupun tidak langasung dalam konflik ini harus menguupayakan panyambungan kembali hingga Allah menerima meeka berdua dan ibadahnya. Jika tidak demikian apa jadinya dengan kekerabatan, bagaimana hubungan antara anak dengan bapaknya. ?

Kemudian Rasulullah Saw juga baersabda dan berbunyi :

Amal-amal itu dilaporkan kepada Allah tiap hari senin dan kamis. Allah mengampuni dosa-dosa orang yang berada dalam kondisi konflik dengan sesama saudaranya. Lalu Allah berfirman disini ” Tunda saja kedua orang ini sampai kesduanya damai, tunda duku keduanya, sampai kedua belah pihak mau dmai.

Jadi, dari sabda Rasulullah itu jelas bahwa Allah Ta’ala akan menunda ampunannya sampai kedua belah pihak damai dan saling memaafkan dan berdamai kembali serta mnyambung kasih.

  1. Birul Walidain

Tanya :

Saudara saya itu berjumla sembilan orang dan saya nomor lima. Kakak-kakak saya sudah menikah dan bahkan adik sayapun sudah menikah, sementara saya sendiri sampai saat ini belum menikah. Tetapi sebelumnya saya permnah baerteman dengan saeorang laki2 dan laki2 tersebut tidak disukai oleh ayah. Dalam kondisi itu saya dijodohkan oleh ayah dengn kenalan paman. Sedangkan perjodohanku it diimingi dengan harta sehingga membuat akau tidak senang pada pilihan ayah. Selain itu juga aku tidak senang dengan sikap ayah yang seakan akan menyodorkan saya seperti barang dagangan sehingga saya berfikir mengapa ayah saya jadi seperti itu. Padahal dalam islam bukankah hanya agama yang menjadi dasar utama bagi seorang yang akan melaksanakan pernikahan. Bukan harta kecantikan ataupun ketampanan. Apakah saya harus menolak tawaran Allah ?

Kemudian baerdosakah saya bila meninggalkan keluarga untuk patut dan taat kepada Allah Ta’ala saja, sebab saya tidak tahan dengan sikap ayah yang seperti itu ?

Jawab :

Seyogyanya anda menghadap kepkada keduanya dengan hati yang lapang dan jiwa serta jiwa yang terbuka serta andapun harus meminta mohon ampun kepada Allah atas dosa orang tua anda sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW. Setekah itu baru anda bermusyawarah kepada keduanya. Anda tidak usah takut bicara, jangn minder dan jangan gemeter. Apabila anda bisa tampil wajar, terbuka dan bisa-biasa saja justru akan membuat kedua orang tua anda akan menghargai anda. Selain itu orang tua anda melihat kedewasaan anda pasti akan berubah.

akhnendi/UAC1/2008

Comments
  1. Jubah Fesyen says:

    You are the best in this issue … yg tu jer nak ucap..
    🙂

  2. irnahepzz says:

    waduh saya ampe capek bcanya…bnyk bgt kang….kok bhsannya tntg nikah sih???dah prepare yaaa!!!

  3. cweetymaniz says:

    Waduuuuuch……
    Artikel apa Majalah???
    Panjang buanget…! ^_^

  4. Subhanallah ya articlenya dah kaya buku ja……..

    Tapi bagus-bagus..^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s