Masalah Kaum Hawa

Posted: July 5, 2009 in TAUSIYAH ONLINE
Tags:

TENTANG SHOLAT

  1. Kewajiban Perintah Sholat

Tanya :

Apakah ada kewajiban bagi seorang mukmin itu ?

Jawab :

Ada, sebagaimana dijelaskan didalam firman Allah yang berbunyi :

Sesungguhnya sholatitu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas semua mukmin.” ( QS. An Nisa : 103 )


Jadi dari ayat tersebut diatas jelas bahwa kewajiban perintah sholat itu ada dan orang mukmin wajib untuk mengerjakannya.

  1. Syarat Wajibnya Sholat

Tanya :

Apa saja syarat wajibnya sholat itu ?

Jawab :

Adapun syarat wajibnya sholat itu adalah sebagai berikut :

  1. Harus Islam dan tidak wajib bagi orang kafir

  2. Suci dari hadast besar atau pun kecil

  3. Akil baligh

  4. Mengaetahui masuknya waktu sholat

  5. Sadar tidak mabukl ataupun tidak tidur

  6. Sampai dakwah kepadanya.

Wanita Dan Imam

Tanya :

Apakah seorang wanita boleh mengimami laki-laki waktu shalat ?

Jawab :

Tidak, karena itu tidak diperbolehkan untuk mengimami pria dan ia hanya diperbolehkan untuk mengimami wanita saja.

Wanita Shalat Dengan Baju Tipis

Tanya :

Apakah diperbolehkan seoramg eanita memakai baju yang tipis dalam sholat ?

Jawab:

Tidak boleh, sebab pakaian sholat adalah khusus dan harus menutup aurat dengan sempurna. Apabila seorang wanita dalam sholat, lalu lengannya terbuka ataupun siku atau kakinya yang terbuka, maka bisa membatalkan shalatnya .

Jadi pakaian wanita dalam sholat tidak boleh ketat, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya ataupun menggunakan baju yang tipis sehingga kelihatan bagian dibawah tubuhnya.

Wanita Menyolati Jenazah

Tanya :

Apakah diperbolehkan seorang wanita menyalati jenazah ?

Jawab :

Tanah atau bumi adalah merupakan suatu tempat orang untuk sholat atau bersujud dan suci

Kemudian ada tempat yang mempunyai peranan ganda, yakni kebun, kantor dan sawah serta kebun atau sekolahan itu semua tempat yang bisa dimanfaatkan untuk sholat tetapi ada juga tempat yang berfungsi untuk sholat saja dan tidak bisa dimanfaatkan untuk usah ayanglainnya. Tempat itu bernama “ mesjid atau baitullah “ karena Nabi SAW melaraeng untuk membicarakan urusan perdagangan di dalam mesjid. Dan mesjid merupakan tempat yang digunakan untuk berhubungan dengan sanga pencipta yakni Allah SWT.

Jadi operbedaan sholat di mesjid dengan ditempat-tempat lainnya adalah kalau di mesjid itu lebih utama daripada ditempat-tempat lain. Karena di mesjid akan lebih mudah terkabulnya doa-doa dan untuk berhubungan dengan Allh SWT.

Wajib Sholat Berjamaah

Tanya :

Apakah berjamaah didalam sholat lima waktu itu hukumnya wajib ?

Jawab:

Sedangakan dasar hukum yang jelas hanya didalam Al Quran dan Al Quran hanya mewajibkan berjamaah pada sholat jum’at saja.

Khusuk Dalam Sholat

Tanya :

Kadang-kadang didalam sholat saya khusuk, kadang-kadang tidak dan itu semua diluar kemampuan saya. Maka dari itu bagaimana caranya agar saya dapat melakukan sholat khusuk ?

Jawab:

Sebuah cerita yagn diriwayatkan, bahwa ada seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW bahwasanya jika ia melakukan sholat tidak bisa khusuk sepenuhnya. Ia seringkali masih terikat hal-hal lain didalam sholatnya. Termasuk urusan rumah tangga utan piutang dan lain-lainnya.

Beliau menjawab “ tidak ada or nag yang bisa khusuk sepe nuhnya dengan sempurna sejak dari awal hingga akhir” . tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyanggah : “ Aku bisa ya Rasulullah. Betul ? tanya nabi “ Betul” jawab Ali dengan yakin.

Beliau bersabda : “ jika memang betul kamu bisa sholat dengan khusuk dari sejak awal hingga akhir aku akan berikan sorbanku ini unntukmu sebagai hadiah;”

Mendengar pernyataan nabi Ali lalu mengerjakan sunnah dua rakaat. Setelah selesai beliau bertanya kepada Ali : “ bagaimana ? bisa khusuk ‘ dengan sempurna ? Dengan wajah murung kemalu-maluan, Ali menjaawab : “ awalnya aku bisa khusuk sekali. Begitu pula dalam rakaat yang kedua ketika sujud yang terakhir juga tetap masih tet ap khusuk hingga tasyahud. Kemudian sampai kepada mendekati salam barulah hatiku berubah lantaran teringat janjimu, ya Rasulullah bahwa engkau akan memberikan hadiah sebuah sorban bagus kepadaku. Jadi rudaklah khusyuku.

Demikianlah pula yang lain-lain. “ kata nabi karena khusuk itu diukur oleh Allah sebatas kemampuan manusia yang penting ketika pikiranmu terbawa oleh urusan lain setelah ingat kembalilah kepada sholatmu lagi. Sebab dalam mengaerjakan ibadah hendaknya kita mampu seakan-akan melihat Allah Taala. Namun jika tidak mampu asalkan kita ingat bahwa kita ingat bahwa Dia telah melihat kita. Itu sudah memadai.” Ujar Nabi seraya tersenyum.

Jadi mengerjakan sholat dengan khusuk itu memang sulit tetapi bila anda mengerjakan sholat dengan khusuk dan penuh ketenangan maka Allah akan menyegerakan pahala dan ganjaaran anda. Namun bila anda tidak bisa khusuk jangan malah meninggalkannya, tetapi tetap mengaerjakannya karena itu hukumnya wajib dan bila anda mengerjakan terus menerus tanpa meninggalkannya, maka anda akan memperoleh pahala.

Oleh sebab itu maka anda memahami bahwa allah tidak akan menuntut pertanggung jawaban terhadap persoalan-persoalan yang kita tidak mampu untuk melaksanakannya.

Puncak Ibadah

Tanya :

Ibadah apakah yang paling tinggi yang bisa dikerjaakn oleh manusia yang beriman sehingga ioa mantap tenang tentram dan ridho dengan anugerah Allah Ta’ala yang bersinambungan ?

Jawab :

Yang dapat kita lakukan agar dapat mencapai ibadah yang paling tinggi adalah :

Kita harus yakin dengan sepenuh hati, bahwa segala yang diperintahkan dan segala yang dilaragn itu pasti baik dan menguntungkan kita

Melakukan dengan senang hati dan menganggapnya sebagai kebutuhan.

Jadi dengan mengamalkan kedua hal itu sudah merupakan puncak ibadah dan sesudah itu mungkin akan terungkap rahasia serta hikmah dari perintah dan segala larangan yang akan lebih menambah kokoh dan teguh iman kita. Meskiun banyak orang ynag belum atupun tidak mengarti sama sekali akan pengertian hikmah sholat, puasa, zakat, dan haji tetapi mereka tet ap dengan senang serta tekun untuk mengamalkannya.

      1. Menilngalkan Sholat Wajib

Tanya :

Ketika pada usia muda say sering meninggalkan shalat wajib, apakah say harus membayar atau cukup dengan sholat sunnah dan nawafil ataupun kelalaianku meninggalkan sholat itu apakah langsung diampuni oleh Allah dn tanpa mengulangi shalat lagi ?

Jawab :

Sebaiknya anda harus mengaerjakan shalat fardu setelah shalat fardu sbanyak shalat yang telah anda tinggalkan, kemudian shalat yang telah anda tinggalkan harus dibayar dan tidak dibenarkan meninggalkan shalat dapat dibayar dengan shalat sunnah sebab tidak ada pengganti shalat wajib kecuali dengan shalat wajib itu sendiri.

Banyak para ulama yan gberpandapat bahwa meninggalkan shalat itu bisa dibayar dengan cukup beristigfar dan memperbanyak shalat sunnah. Insya Allah itu dapat mengganti kelalaian anda pada masa muda tidak perlu di qodho lagi.

Shalat Mencakup Rukun Islam Yang Lain

Tanya :

Apakah buktinya kalau shalat itu mencakup rukun Islam yang lainnya ?

Jawab:

Buktinya didalam shalat diucapkan dua kalimah syahadat, shalat juga mencakup zakat. Demudian arti zakat adalah mengorbankan sebagian harta milik yang didapat melalui pengorbanan waktu, adapun waktu yang diperlukan dalam shalat adalah merupakan waktu yang dipergunakan untuk mencari rizki.

Selain itu shalat juga mencakuup puasa dan terdapat ibadah haji. Menghadap ke ka’bah seakan-akan seseorang yang mengerjakan shalat itu sedang mengaerjakan atau menunaikan ibadah haji tetapi dengan hati yang penuh dengan khusuk dan jiwa yang tenang serta tekun, meskipun tidak diberengi dengan badan.

Jadi didalam shalat itu meliputi du kalimah syakhadat, zakat, puasa dan ibdah haji. Sedangkan semua itu mencakup rukun islam.

Tidak Shalat Kafir

Tanya :

Shalat adalah merupakan tiang agama dan didalam Al Quran juga berulang-ulang menekankan tentang wajib mengerjakan shalat. Akan tetapi masih banyak orang yang menyatakan dirinya itu Islam namun tak pernah mengerjakan shalat. Apakah orang yang demikian itu bisa dikatakan atau tergolong orang kafir ?

Jawab :

Shalat adalah ibadah wajib yang harus ditegakkan oleh semua orang Islam. Apapunalasannya se;ama dia masih hidup tidak boleh pisah dengan shalat. Anda tidak meninggalkan shalat dengan alasan tidak bisa berdiri karena punya penyakit pegel linu. Sedangkan Allah tidak pernah memberi beban kepada ummatnya, apabila tidak bisa berdiri maka bisa dengan duduk dan dengan duduk tidak mampu bisa dengan berbaring. Apabila dengan berbaring tetap tidak mampu maka bisa anda lakukan dengan gerakan mata atau isyarat. Kalauopaun masih tidak bisa juga maka anda bisa mengerjakaan shalat dengan hati ataupun perasaan.

Kemudian orang yang meninggalkan shalat dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

Orang yag menolak, ingkar dan melawan perintah shalat dengan mengatakan bahwa tugas mengerjakan tugas mengerjakan shalat itu bukan merupakan kewajiban bagi dirinya sendiri.

Orang yang selalu menggampangkan dan melalaikan shalat yang dikaenakan mlas namun dia masih tetap mempunyai keyakinan bahwa shalat merupakan azas agama dari satu perintah Allah yang wajib untuk dilaksanakan.

Sedangkan kelompok b ini yang suklit untuk dipengaruhinya agar mau mengaerjakan shalat. Karena bila ditegur akan menjadi salah faham diantara yang ditegur dan yan gmenegur maka dari itu bila memberi anjuran dan saran alangkah baiknya dilakukan dengan ramah dan bijaksan, agar tidak terjdi salah faham.

Istri Yang Tidak Mau Shalat

Tanya:

Apakah yang dilakukan oleh seoran suami bila istrinya tidak mau mengerjakan shalat ?

Jawab :

Jikalau seorang istri dengan sadar telah meninggalkan shalat dan ingkar terhadap kewajibannya untuk mengerjakan shalat serta melawan perintah Allah, maka dia keluar daro agama Islanm. Kemudian bila dia itu meninggalkan shalat karena malas dan masih mempunyai keyakinan akan kewajiban melakukan shalat maka suaminya itu wajib menasehatinya dengan penuh bijaksana dan membimbingnya dengan kesabaran pula agar si istri mau untuk diajak shalat bersama sama dengan berjamaah.

Kemudian ada pendapat yang mengatakan bahwa :” Apabbbbila seorang istri menolak intuk mengerjakan shalat dalam jangka waktu 6 bulan sampai setahun maka suami melakukan “ Tolak punggung “ bersikap agak keras dan mengucilkannya. Tetapi bila segala usaha sudah ditempuh dan si istri tetap tidak mau mengerjakan shalat maka tindakan yan gterakhir adalah dengan menceraikannya.

Jadi kewajiban sang suami apabila istr inya tidak mau mengerjakan shalat tetapi bila si istri te tap tidak mau menuruti apayng disarankan suaminya maka suami harus bersikap keras agar mau melakukan shlat. Namun bila segala usah atelah ditempuh tetapi tetap gagal maka suami harus menceraikannya

Doa Sebelum Salam

Tanya :

Pada suatu hari Sayyidina Abu Bakar As Sidik ra minta kepada nabi supaya dia diajarkan doa sebelum salam dan apakah isi doa itu ?

Jawab :

Isi doanya yaitu sebagaimana disebutkan didalam sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :

Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriku sendiri dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosaku kecuali hanya engkau karena itu ampunilah aku dengan pengampunan dari sisimu. Sesungguhnya Engkau maha [engampun lagi maha panyayang.” (Mutafaqun Alaihi)

Malas Shalat

Tanya :

Mengapakah sbagian dari umat Islam malas untuk mengerjakan shalat ?

Jawab:

Apakah orang yang malas untuk mengerjakan shalat itu mengira bahwa jika dia shalat akan memakan waktu yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk urusan dunia ? tetapi bila dijadikan alasan maka perlu kita tanyakan : “ darimanakh anda berangkat untuk menentukan waktu ? “ apabila anda merasakan dalam melakukan shalat sebagai suatu pengorbanan waktu yang sangat berharga maka anda perlu ingat bahwa waktu yang anda gunakan untuk mencari rizqi juga harus dikornbankan yakni dengan memberikan sedikit amal kepada orang yang membutuhkan, menolong anak yatim piatu dan mengeluarkan zakat. Karena pengorbanan kepada orang lain dengan mengeluarkan sedikit harta benda kita ataupun mengeluarkan zakat adalah pengganti dalam penggunaan waktu untuk bekerja dan berusaha.

Shalat Witir

Tanya:

Bagaimanakah shalat witir menurut mahdzab syafi’I dan mahdzab hanafi itu?

Jawab:

Shalat menurut mahdzab syafi’I adalah hanya satu rakaat saja etelah shalat dua rakaat. Sedangkan menurut nahdzab hanafi, bahwa shalat witir itu terdiri dari tiga rakaat sama seperti sholat magrib.

Peminum Arak Yang Shalat

Tanya:

Bolehkah orang yang meminum arak untuk mengerjakan shalat?

Jawab:

Itu merupakan masalah yang sangat disesalkan dan perlu diingat bahwa shalat yang hakiki adalah sebagaimana yang dipaparkan oleh Rasulullah Saw., yakni shalat yang mampu untuk mencegah pelakunya dari suatu perbuatan yang keji dan munkar. Sedangkan hal itu juga dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala yang berbunyi

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar.”(QS. Al-Ankabut:45)

Adapun minuman keras adalah merupakan salah satu dari perbuatan yang mungkar dan dosa yang paling besar, karena bisa mengganggu kesehatan baik itu kesehatan jasmani ataupun rohani dan juga berpengaruh buruk pada rumah tangga, keluarga dan masyarakat.

Jadi orang yang sedang mabuk diakibatkan karena mimun-minuman keras itu dilarang untuk mengerjakan shalat, tetapi bila ia sudah sadar dan leka-lekas membersihkan diri dari bekas-bekas arak. Setelah itu berwudhu, maka dapat melaksanakan shalat dan insya allah shalatnya itu akan diterima oleh Allah SWT. Dan semoga disuatu hari kelak shalatnya bisa mengalahkan dari kebiasaan buruknya itu. Sebab peminum arak yang masih ingat mengerjakan shalat itu lebihy baik daripada peminum arak yang tidak sama sekali mengerjakan shalat.

Pengaruh Istikharah Terhadap Mimpi

Tanya:

Setelah mengerjakan shalat istikharah, lalu bermimpi.

Apakah mimpiku itu merupakan petunjuk bagi suatu penerimaan dan penolakan?

Jawab:

Sebetulnya mimpi itu tidak ada pengaruhnya dengan shalat istikharah, karena apa yang dilihat dan dialami dalam mimpi itu sering dipengaruhi oleh masalah yang sedang dipikirkan.

Sedangkan shalat istikharah yang diajarkan Rasulullah Saw.adalah shalat dua rakaat dan membaca doa, sebagaimana yang telah kita kenal.

Setelah itu akan terasa dalam hati apa yang disenangi dan merupaka pilihan yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

Kemudian shalat istikharah itu berlaku untuk dua pilihan yang seimbang sehuingga sulit dan berat bagi kita untuk memilih salah satunya, sebab keduanya berbobot dan memenuhi dalam ajaran agama islam. Contohnya untuk memilih calon suami atau istri, pekerjaan, sekolah, jurusan tenpat tinggal dan lain-lainnya.

Jadi shalat istikharah adalah menyerahkan pilihan dari beberapa pilihan kepada Allah Ta’ala agar memberikan apa yang terbaik untuk kita, baik dipandang deari segi agama, kehidupan, pencarian, rizki dan lain-lainnya yang ada hubuhngannya dengan uruan kita dikemudian hari.

Wanita Shalat Jum’at

Tanya:

Apakah seorang wanita berkewajiban untuk menunaikan shalat jum’at?

Jawab:

Seorang wanita tidak diwajibka untuk shalat jum’at dan yang berhak untuk shalat jum’at itu adalah laki-laki, meskipun jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki. Sedangkan ketentuan tersebut juga ditegaskan dalam hadits nabi yang berbunyi:

shalat jum’at wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dalam berjamaah kecuali 4 kelompok yakni: hamba sahaya, wanita anak-anak dan orang sakit.

Jadi tidak ada perintah yang menerangkan bahwa wanita harus shalat jum’at, tetapi tidak dilarang bila wanita shalat jum’at, karea stasus hukumnya jawaz.

  1. Posisi Makmum

Tanya:

Ada sebagian makmum itu berdiri dengan posisi paling depan daripada imam, terutama dalam shalat jum’at yang disebabkan karena keterbatasan ruang. Dan bagaimanakah hukum shalat mereka itu?

Jawab:

Salah satu syarat dal;am shalat jum’at adalah seorang makmum tidak boleh berada lebih depan dari imam, kecuali mengerjaka shalat disekitar kabah. Sedangka menurut mahdzab imam syafi’i ra.bahwa seorang makmum yang posisinya lebih maju daripada imam itu hukumnya makruh, kecuali kondisi darurat dan masjid dalam keadaan sesak.

Kemudian dari mahdzab maliki ra.bahwa seorang makmum yang berdiri lebih maju daripada imam shalatnya tetap sah, karena tidak mengharuskan adanya syarat tersebut.

  1. Posisi Wanita Dalam Shalat Berjama’ah

Tanya:

Didalam shalat berjama’ah, posisi yang paling baik bagi wanita itu adalah didepan , disamping kiri dan disamping kanan ataupun dibelakang.?

Jawab:

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang berbunyi:

Dari Abdurahman bi Ghanim, dari abu Malik Al-Asy’ ari dari Rasulullah Saw.bahwa dalam membaca surat dan berdiri diantara empat rakaat, beliau sederhanakan semua, hanya rakaat pertama saja yang diperpanjang beliau. Orang-orang laki-laki beliau tempatkan di depan anak-anak dan di tempat belakang anak-anak ditempati wanita.”(Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

Jadi dari hadits diatas jelas bahwa posisi shalat bagi wanita yang paling baik adalah diakhir atau dibelakang sendiri. Sedangkan dalam syariat islam juga telah jelas menentukan dimana tempat shalat bagi wanita di masjid dalam shalat berjamaah, bahwa wanita tidak diperbolehkan berdiri didepan lelaki atau dekt denga mereka.

  1. Shalat Fajar Dan Shalat Subuh

Tanya:

Apa beda shalat fajar dan shalat subuh?

Jawab:

Dimana shalat subuh merupakan shalat fardu dan waktunya dimulai dari terbit fajar hingga terbit matahari. Sedangkan shalat subuh itu juga dinamakan shalat fajar, karena dikerjakan atau pelaksanaannya tepatnya pada waktu fajar.

Jadi shalat subuh dan shalat fajar itu sama, karena pelaksanaannya tepat diwaktu fajar.

  1. Khotib Shalat Jum’at

Tanya:

Apakah imam shalat-shalat jum’at itu haru khotibnya sendiri ataupun boleh orang lain?

Jawab:

Alangkah baiknya apabila imam shalat jum’at itu khotibnya sendiri, tetapi bila ada suatu halangan ataupun yang lainnya dapat diganti dengan orang lain. Begitulah halnya dengan orang yang menyerukan iqomah akan lebih afdhol muazinnya sendiri, meskipun orang lain juga bisa.

  1. Wanita Mengerjakan Shalat Idul Fitri

Tanya:

Apakah seorang wanita memperoleh hak untuk mengerjakan shalat idul fitri?

Jawab:

Dimana shalat idul fitri itu hukumnya adalah sunnah muakad, yang artinya tidak diwajibkan, tetapi sangat ditekankan pelaksanaannya. Dalam hal ini wanita pun memperoleh hak untuk mengikuti perayaan idul fitri dan disunahkan untuk mengikuti shalat idul fitri bersama-sama dengan kaum laki-laki. Sedangkan kesempatan itu juga diberikan kepad wanita yang haid dan terpingit, tetapi syaratnya bagi wanita yang sedang haid tidak boleh mengikuti shalat dan cukup mendengarkan khutbah di luar mesjid(kalau pelaksanaannya di mesjid) tetapi bila pelaksanaannya di lapangan, maka mereka harus mengambil tempat yang paling belakang sendiri dan tidak diperbolehkan bercampur dengan shaf wanita yang dalm keadaan suci.

Hal itu juga dijelaskan dalam hadits dari Ummu Athiyyah ra.yang berbunyi:

Ummu Athiyyah berkata : Rasu;lullah Saw.memerintshksn kami supaya mengikuti idul fitri dan idul adha, meliputiremaja putri, yang sedang haid dan terpingit. Khusus bagi mereka haid hendaknya menjauhi shalat. Menurut lafat yang berbeda : menjauhi tempat shalat dan mendengarkan khutbah dan dakwah kepada kaum muslimin. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah Saw., diantara kami ada yang tidak mempunyai jilban.”Beliau menjawab”Hendaknya saudaranya memberikan pakaian kepadanya.”

Jadi wanita itu memperoleh hak untuk shalat idul fitri, tetapi kesunahan itu hanya diberikan kepada mereka untuk mengikuti shalai idul fitri dan shalat idulmadha, dan untuk sdhalat jum’at tidak disunahkan mengikutinya, mungkin hanya didasarkan kepad status hukum dan waktunya.

  1. Shalat Tahajjud

Tanya:

Waktu yang paling baik untuk shalat sunnah tahajjud itu jam berapa dan ada berapa shalat tahajjud itu?

Jawab:

Waktu yang paling baik untuk shalat tahajjud itu adalah pada malam hari dan sebagus-bagusnya itu adalah bangun dari tidur pada sepertiga yang terakhir dari waktu malam itu ( kira-kira jam dua ).

Adapun banyaknya solat sunnah tahajud itu tidak ada bataannya dan paling sedikit itu dua rakaat. Kemudian perlu diingat jikalau didalam waktu malam itu ada kehendak ada kehendak untuk menerjakan shalat witir dan shalat tahajud maka hendaknya shalat witir dikerjakan sesudah shalat tahajud.

  1. Shalat Jama’ah

Tanya :

Apakh hukumnya melakukan shalat jama’ah bagi seorang laki-laki merdeka ?

Jawab :

Adapun hukumnya mengerjakan shalat jama’ah itu adalah fardu kifayah ktika mengerjakan shalat lima waktu bagi orang laki-laki

Yang merdeka, mungkin dalam arti sedang tidak melakukan perjalananan. Tetapi didalam shalat jama’ah hukumnya bukanlah fardu kifayah melainkn fardu a’in dan sedikit-dikitnya dalam jamaah itu adalah dua orang, yakni seorang imam dan seoran makmum.

Comments
  1. abidzar says:

    beuh.. kang ustat..

    kumah cenah solat anu bener teyh??
    dan supaya khusyuk kudu kumaha??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s