Taat Pada Pemimpin

Posted: July 8, 2009 in TAUSIYAH ONLINE
Tags: , ,

Ketaatan Kepada Pemimpin

Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan

Allah berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. AnNisa’; 59)

Dalam agama Islam, kepemimpinan merupakan suatu perkara  yang amat prinsipil sehingga dapat menjadi issu penting dan menarik untuk diperbincangkan. Pemimpin yang dimaksudkan dalam Islam adalah pemimpin dari kalangan mukmin sendiri sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran: 28).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin( mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah: 51).

Berdasarkan dua ayat tersebut di atas dapat kita pastikan bahwa pemimpin yang kita maksudkan untuk kaum muslimin adalah pemimpin yang berasal dari orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Hal ini selaras dengan ayat pertama yang khatib bacakan di awal khutbah tadi yaitu anjuran taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah SAW dan pemimpin-pemimpin yang mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Ukuran taat kepada pemimpin digambarkan dalam sebuah hadis berikut:

Artinya: Barangsiapa yang mentaatiku berarti ia mentaati Allah dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia mendurhaka kepada Allah, dan barangsiapa yang mentaati pemimpin, maka berarti ia mentaatiku, dan barangsiapa yang mendurhakai pemimpin maka ia mendurhakaiku…..

Rasulullah SAW dalam beberapa hadis menetapkan bagaimana caranya kita mentaati dan menghormati pemimpin dan sejauh mana kita dapat melawannya. Dalam satu hadis riwayat muslim beliau bersabda:

Artinya: Pemimpin-pemimpinmu yang paling baik adalah orang yang engkau sayangi atau kasihi dan ia menyayangimu (mengasihimu) dan yang engkau doakan dengan keselamatan dan merekapun mendoakanmu dengan keselamatan. Dan pemimpin-pemimpinmu yang paling jahat (buruk) ialah orang yang engkau benci dan ia membencimu dan yang engkau laknati serta mereka melaknatimu. Lalu kami (para sahabat) bertaya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah! Apakah tidak kami pecat saja mereka? Rasulullah menjawab: Jangan! Selagi mereka masih mendirikan salat bersama kamu sekalian.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Siapa saja yang membenci atau tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa (pemimpin) maka hendaklah ia bersabar. Sesungguhnya orang yang meninggalkan (belot) dari kepemimpinan (jamaah) walaupun hanya sejengkal maka matinya tergolong dalam mati orang jahiliyah”.

Dua hadis di atas menunjukkan bahwa pemimpin itu harus orang yang baik dan menyayangi rakyat serta rakyat menyayanginya. Kalau ada perihal yang tidak disukai oleh rakyat pada pemimpinnya, maka rakyat tidak diizinkan untuk memecatnya selagi sang pemimpin masih melaksanakan salat bersama rakyatnya. Makna yang terkandung di sini adalah kalau pemimpin itu tidak lagi atau tidak pernah shalat maka ia mengandung makna boleh rakyat memecatnya.

Walau bagaimanapun, ketegasan itu ada dalam hadis Rasulullah SAW berkenaan dengan pemimpin bagaimana yang harus kita taati. Beliau bersabda: “Tiada kepatuhan terhadap pemimpin yang dhalim”. Dalam hadis lain berbunyi: “Tidak ada ketaatan bagi makhluk untuk bermaksiat kepada khalik (Allah)”.

Berdasarkan dalil-dalil di atas dapat kita pahami bahwa Islam menetapkan seorang pemimpin dengan penuh perhitungan sehingga tidak semudah membalik telapak tangan dapat dipecat atau diturunkan dari kursi kepemimpinannya. Islam juga sangat ketat terhadap kemungkinan terjadinya dualisme kepemimpinan dalam sesebuah kawasan yang dihuni ummat Islam. Pemimpin yang dipilih, diangkat dan dibaiat oleh ummat Islam harus orang yang baik aqidahnya, baik ibadahnya dan baik pula akhlaknya yang disertai oleh ilmu pengetahuan yang memadai dan punya kearifan sendiri.

Ketika model pemimpin Islam seperti ini wujud maka tidak ada alasan bagi rakyat untuk tidak taat kepada pemimpinnya. Mentaati kepada pemimpin dalam Islam merupakan bahagian daripada ibadah apabila pemimpin itu baik, adil dan bijaksana sehingga rakyat puas dengan kepemimpinannya. Akan tetapi apabila pemimpin itu sudah melakukan perbuatan maksiat maka rakyat tidak boleh lagi taat pada kemaksiatan yang dilakukannya. Kalaupun pemimpin itu sulit untuk diperbaiki ke arah yang benar maka rakyat tidaklah terikut-ikutan dengan kemaksiatannya.

Ketaatan kepada pemimpin mengikut ayat Al-Quran dan Hadis Nabi di atas merupakan suatu keharusan, asalkan pemimpin itu masih berada pada jalan yang benar, adil dan bijaksana. Kalau pemimpin sudah berada di jalan sesat khususnya berkenaan dengan persoalan aqidah, syariah dan akhlak, maka ketaatan dari rakyat untuknya tidak dapat dipertahankan walaupun sulit bagi rakyat untuk memecatnya. Hadis Rasulullah SAW di atas melarang kita untuk memecat pemimpin yang kita benci selagi si pemimpin itu masih melaksanakan shalat bersama kita. Kalau pemimpin sudah dhalim terhadap rakyat dan negaranya, maka ia harus diganti dengan pemimpin yang baik.

Di hadis yang lain pula Rasul Allah menegaskan: “Tidak ada kepatuhan bagi pemimpin yang dhalim” atau tidak ada ketaatan dari makhluk kepada pemimpin yang bermaksiat kepada Khaliq (Allah SWT). Oleh karena yang demikian ketaatan kepada pemimpin merupakan suatu kewajiban dari ummah manakala sang pemimpin masih tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila si pemimpin sudah jauh menyimpang dari rambu-rambu Islam maka tidak seharusnya ummat mengikutinya. Hal ini selaras dengan ayat Al-Quran dan sunnah Nabi di atas tadi.

Sebagai khulashah, hadits Rasulullah SAW di atas menyuruh kita untuk taat kepada pemimpin karena dalam konsep kepemimpinan Islam tidak ada pengangkatan pemimpin dhalim. Karena itu ketika Rasulullah menyuruh kita taat kepada pemimpin bukan bermakna taat kepada pemimpin mana saja. Tetapi pemimpin yang kita pilih dari orang-orang pilihan, bukan sembarang orang. Dengan demikian sang pemimpin sudah dapat dijamin bagus, taat dan adil. Hal ini tercermin dalam masa kepemimpinan Khulafaurrasyidin yang semuanya orang-baik-baik. Begitulah kita harus memilih pemimpin yang kemudian kita taati.

Kalau dari awal kita sudah memaksa rakyat agar memilih orang jahat dan tidak shalat menjadi pemimpin. Maka kesalahannya bukan pada tidak taat rakyat terhadap pemimpinnya, tetapi kesalahan sudah mulai ditanam ketika memaksa rakyat memilih pemimpin jahat. Akibatnya timbullah kesalahan berikutnya yang dapat mengancam ketentraman rakyat karena sebagian rakyat taat kepada pemimpin dhalim dan sebagian lainnya tidak taat padanya. Wallahu a’lam.

Khatib, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry

Comments
  1. duh bner tuh bang harus taat pada pemimpin tuh

Leave a Reply to shortstoryofme Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s